Dirut Hanania Group Tawarkan 2 Opsi Calon Jemaah Minta Pengembalian Dana
Direktur Utama Hanania Group menawarkan dua opsi penyelesaian kepada ratusan calon jemaah umrah yang gagal berangkat ke Tanah Suci pada Selasa, 2 Juni 2026. Penawaran tersebut langsung disambut riuh kekecewaan dan protes keras dari para korban yang memadati lokasi pertemuan.
Langkah ini diambil manajemen setelah adanya desakan masif dari para calon jemaah yang menuntut kejelasan nasib uang yang telah mereka setorkan. Pihak travel mengakui adanya kendala operasional berat yang menyebabkan keberangkatan para jemaah terus mengalami penundaan tanpa kepastian.
Pertemuan yang berlangsung tegang tersebut menjadi puncak dari kekesalan jemaah yang merasa terus diberi janji palsu oleh pihak travel. Mayoritas jemaah menolak opsi yang dinilai tidak memberikan jaminan keamanan bagi dana mereka.
Dalam penjelasannya di hadapan massa, Direktur Utama Hanania Group memaparkan dua pilihan skema penyelesaian hukum dan finansial untuk menenangkan situasi. Perusahaan mengeklaim tetap bertanggung jawab atas kerugian yang dialami seluruh korban.
Berikut adalah dua opsi yang ditawarkan oleh pihak Hanania Group kepada para calon jemaah:
- Opsi Rescheduling (Penjadwalan Ulang): Jemaah diminta menunggu pemberangkatan kloter baru dengan jaminan hotel dan maskapai yang diklaim sedang dinegosiasikan ulang oleh manajemen.
- Opsi Refund (Pengembalian Dana) Bertahap: Perusahaan bersedia mengembalikan uang jemaah sepenuhnya, namun pembayarannya dilakukan secara mencicil dalam jangka waktu yang ditentukan oleh perusahaan.
Riuh Kekecewaan dan Penolakan Jemaah
Mendengar skema pengembalian dana yang harus dicicil, ruang pertemuan langsung dipenuhi teriakan penolakan dari para calon jemaah. Banyak di antara mereka yang histeris karena merasa skema tersebut hanya menjadi taktik mengulur waktu dari pihak travel.
Berdasarkan laporan jurnalis di lapangan, estimasi total kerugian yang dialami oleh para korban dalam kasus ini ditaksir mencapai miliaran rupiah. Skema penundaan ini dinilai sangat merugikan jemaah yang sudah melakukan syukuran dan berpamitan untuk berangkat umrah.
"Kami sudah tidak percaya lagi dengan janji penjadwalan ulang atau dicicil, kami hanya ingin uang kami kembali utuh sekarang juga tanpa syarat," ujar salah satu perwakilan calon jemaah yang hadir di lokasi.
Pencairan Aset Manajemen Hanania Group
Demi meyakinkan para calon jemaah yang mulai tidak terkendali, Direktur Utama Hanania Group menyatakan bahwa dirinya siap mencairkan aset-aset pribadi miliknya. Aset tersebut akan digunakan sebagai modal utama pemenuhan tanggung jawab ganti rugi.
Manajemen menyatakan sedang memproses penjualan beberapa properti dan aset bergerak milik perusahaan maupun pribadi. Pihak travel meminta waktu kepada jemaah agar proses likuidasi aset tersebut dapat berjalan lancar demi mengumpulkan dana refund.
Berikut adalah rincian rencana penanganan klaim jemaah yang disiapkan oleh pihak manajemen berdasarkan opsi yang dipilih:
| Kategori Pilihan | Mekanisme Penyelesaian | Estimasi Waktu |
|---|---|---|
| Rescheduling | Pemberangkatan dengan kloter konsolidasi baru | Menunggu jadwal maskapai |
| Refund Aset | Pencairan dana dari penjualan aset pribadi dirut | 3 hingga 6 bulan |
| Jalur Hukum | Penyelesaian melalui laporan kepolisian | Sesuai proses hukum |
Sejumlah perwakilan jemaah menyatakan tetap akan membawa kasus ini ke ranah hukum pidana jika dalam beberapa hari ke depan tidak ada kepastian pembayaran tunai. Pengawasan dari pihak berwajib dan Kementerian Agama kini terus berjalan mengawal kasus operasional travel umrah ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow