Djarum Klarifikasi Investasi Rp 24 T Keluarga Hartono ke Luar Negeri
PT Djarum menanggapi laporan investasi keluarga Hartono di luar negeri senilai 1,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24,64 triliun. Perusahaan menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi dan integrasi bisnis untuk memperkuat rantai pasok industri rokok.
Manager Corporate Communications Djarum Budi Darmawan menjelaskan, investasi berupa akuisisi perusahaan kertas yang produknya mendukung industri rokok. Akuisisi dilakukan terhadap SWM dan Tantapier, yang memproduksi bahan pembungkus batang rokok dan kertas untuk filter serta kemasan.
"Ini diversifikasi bisnis. Kami di Djarum memang mengakuisisi pabrik kertas untuk rokok, yaitu SWM dan Tantapier," ujar Budi saat dihubungi Kompas.com, Kamis (10/9/2026).
Budi menekankan akuisisi tersebut sudah dimulai sejak 2023, saat Joko Widodo masih menjabat sebagai Presiden. Ia menambahkan, transaksi ini menggunakan pembiayaan asing berupa pinjaman untuk memperkuat lini bisnis Djarum.
"Faktanya, afiliasi pengambilalihan dan akuisisi ini dilakukan di tahun 2023, pada zaman Presiden Jokowi," kata Budi.
"Ini bagian dari langkah strategis industri hasil tembakau Djarum untuk memperkuat lini kita. Akuisisi ini dilakukan pada zaman Presiden Jokowi, 2023-2024. Alhamdulillah dengan menggunakan pembiayaan asing, pinjaman, jadi kita memperkuat lini kita," paparnya.
Menurut laporan Bloomberg, sembilan entitas berbasis di Singapura dan London yang terafiliasi dengan keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya 1,4 miliar dollar AS. Pada akhir 2023, Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd mengeluarkan 669 juta dollar AS untuk akuisisi perusahaan kertas di Amerika Serikat. Pada 2024, perusahaan tersebut mengalokasikan 360 juta euro untuk akuisisi produsen kertas di Austria.
Budi menegaskan lebih dari 90 persen bisnis Djarum tetap berada di Indonesia. Ia menyebut komitmen keluarga Hartono untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional tetap kuat.
"Jadi sebenarnya Djarum itu hampir lebih dari 90 persen bisnisnya di Indonesia," ujar Budi.
"Kenapa 90 persen bisnisnya di Indonesia? Karena cita-cita owner kita, Pak Budi Hartono dan Pak Bambang Hartono, sebagai warga negara, sebagai rakyat Indonesia, ingin ikut membangun kesejahteraan dan kemakmuran di Indonesia, negara yang kita cintai ini," katanya.
Laporan Bloomberg juga menyoroti peningkatan investasi pengusaha besar Indonesia di luar negeri di tengah ketidakpastian iklim usaha. Analis senior Asia di Verisk Maplecroft, Laura Schwartz, menyebut pendekatan pemerintah yang dinilai tidak konsisten meningkatkan kekhawatiran investor.
"Peran pemerintah yang semakin besar dalam perekonomian telah meningkatkan ketidakpastian di sejumlah sektor utama Indonesia," kata Laura Schwartz.
"Pendekatan pemerintah yang terkadang hangat dan terkadang dingin terhadap para pemimpin bisnis Indonesia tidak membantu meredakan kekhawatiran investor," paparnya.
Sejak Oktober 2024, Indonesia menghadapi tekanan arus modal keluar yang membebani nilai tukar rupiah dan pasar saham. Investor global melepas hampir 4 miliar dollar AS saham Indonesia secara neto sejak Januari 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow