Dokter Paru UGM Peringatkan Risiko ISPA Akibat Karhutla
Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi ancaman serius di tengah musim kemarau dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seperti dilansir dari Detikcom, Kementerian Kesehatan mencatat ada 13.449 kasus ISPA sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Pakar sekaligus Dokter Spesialis Paru FK-KMK UGM, dr Ika Trisnawati, menyoroti fenomena kenaikan kasus ini. Partikel debu tanah maupun udara sangat mudah terbawa angin saat kemarau, lalu masuk ke saluran pernapasan masyarakat.
Paparan kabut asap dan debu yang berterbangan akibat pengeringan rumput serta lahan memperbesar risiko gangguan pernapasan. Kondisi tersebut paling cepat memicu penyebaran penyakit di area yang terdampak bencana karhutla.
Terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar gangguan ISPA. Penurunan fungsi organ pada lansia menjadi salah satu alasan tingginya tingkat kerentanan mereka terhadap penyakit ini.
Berikut adalah beberapa kelompok rentan yang membutuhkan perhatian ekstra:
- Penderita asma
- Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akibat rokok
- Penderita tuberkolosis paru
- Penderita kanker paru
- Penderita penyakit kronis lain (diabetes, penyakit jantung, dan gagal ginjal)
- Lansia
- Anak-anak
Anak-anak masuk dalam jajaran kelompok paling rentan karena organ pernapasannya masih berkembang. Ukuran diameter saluran napas yang kecil membuat anak-anak mudah mengalami penyumbatan saat terjadi peradangan atau penumpukan dahak.
"Kalau terkena infeksi virus seperti influenza ataupun masuk partikel debu, kalau terjadi peradangan, tersumbat oleh dahak, lebih mudah sesak dibanding yang saluran napasnya diameternya lebih besar, yaitu pada usia dewasa," kata Ika.
Gejala dan Tanda Bahaya
Gejala umum ISPA yang patut diwaspadai meliputi batuk dan pilek pada area hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan. Infeksi yang sudah berkembang biasanya memicu demam pada tubuh pasien.
Batuk kering umumnya muncul pada tahap awal paparan. Munculnya dahak berwarna kekuningan menandakan telah terjadi infeksi bakteri di dalam tubuh.
"Kalau untuk ISPA ringan yang disebabkan paparan debu dan asap sesaat, umumnya kondisi dapat membaik dalam 3-5 hari," kata Ika.
Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika timbul tanda bahaya. Tanda penanganan medis meliputi demam tinggi yang tak kunjung turun, produksi dahak kuning semakin banyak, serta sesak napas yang kian memburuk.
Gejala khusus juga dialami kelompok anak-anak saat terinfeksi ISPA. Anak-anak biasanya mengeluarkan bunyi mengi atau 'ngik-ngik' sewaktu mengembuskan napas.
"Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya," ujar Ika.
Tips Perlindungan Diri
Guna meminimalkan dampak buruk dari lonjakan kasus ISPA, Ika menyarankan tiga langkah perlindungan mandiri bagi masyarakat:
1. Hindari Pembakaran Sampah
Asap dari pembakaran sampah rumah tangga maupun karhutla mengandung zat berbahaya. Paparan jangka panjang berisiko meningkatkan kerusakan organ paru hingga kanker.
2. Gunakan Masker
Masyarakat yang sedang mengalami flu diimbau memakai masker guna menekan penularan ke orang lain. Masker juga melindungi saluran pernapasan dari paparan debu dan asap outdoor.
"Penggunaan masker juga dapat membantu mengurangi paparan ketika harus beraktivitas di lingkungan yang berdebu atau berasap," kata Ika.
3. Penerapan Gaya Hidup Sehat
Peningkatan daya tahan tubuh menjadi kunci utama pencegahan ISPA. Langkah terpenting mencakup konsumsi makanan bergizi, olahraga di lingkungan bersih dari asap, serta istirahat yang cukup.
"Istirahat yang cukup, berolahraga dengan memilih lingkungan yang tidak banyak terpapar debu dan asap, hingga makan makanan bergizi setidaknya dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan ISPA," kata Ika.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow