Dolar AS Menguat Tekan Nilai Tukar Rupiah

Smallest Font
Largest Font

Aset aman dolar Amerika Serikat (AS) mengalami peningkatan permintaan setelah Washington dilaporkan meluncurkan serangan baru ke fasilitas militer Iran. Kondisi geopolitik tersebut memicu lonjakan harga minyak global dan menekan pergerakan nilai tukar mata uang regional termasuk rupiah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026.

Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pada pukul 09.18 WIB, mata uang rupiah merosot hingga 57 poin atau setara 0,32 persen ke posisi Rp17.858 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari hari Rabu ketika rupiah ditutup pada level Rp17.827 per dolar AS, sementara indeks dolar AS justru merangkak naik 0,14 persen menuju level 99.34.

Laporan dari Reuters menyebutkan serangan terbaru AS ke Iran mempersulit proses negosiasi damai yang sedang berjalan di Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap perkembangan pembicaraan tersebut dan membantah klaim media Iran terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz dengan Oman.

Situasi ketegangan global ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan biaya energi. Investor kini memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mengalihkan fokus kebijakannya untuk meredam dampak tekanan inflasi tersebut.

Head of Global Quant Macro Strategy Citigroup Alex Saunders menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan indikator makro tersebut ekonomi global.

"Kami masih melihat posisi underweight terhadap dolar AS mulai dikurangi investor," ujar Saunders.

Sentimen penguatan dolar AS juga memicu pelemahan mata uang global lainnya, di mana Euro turun tipis ke level US$1,1620 dan pound sterling merosot 0,1 persen menjadi US$1,34176. Selain itu, dolar Australia melemah 0,2 persen ke US$0,71305 sedangkan dolar Selandia Baru bergerak relatif stabil pada level US$0,58965.

Di Asia, mata uang yen Jepang juga mengalami tekanan besar hingga menyentuh level 159,60 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan yang terendah sejak akhir April lalu dan mulai mendekati batas psikologis yang sebelumnya memicu aksi intervensi pasar oleh otoritas Jepang.

Market Analyst IG Group Tony Sycamore memberikan pandangannya mengenai langkah stabilitas yang diambil oleh pihak otoritas moneter Jepang dalam menghadapi fluktuasi ini.

"Pertanyaannya sekarang apakah otoritas Jepang siap kembali melakukan intervensi besar jika level 160 kembali ditembus," ujar Sycamore.

Melalui data LSEG, pelaku pasar keuangan kini memproyeksikan adanya peluang sebesar 70 persen bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin. Langkah pengetatan moneter tersebut diperkirakan bakal diputuskan dalam pertemuan kebijakan yang dijadwalkan pada 15 hingga 16 Juni mendatang.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed