Donald Trump Ancam Balas Serangan Rudal Iran ke Pangkalan AS

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam bakal membalas serangan rudal dan pesawat nirawak milik Iran yang mengincar militer AS di Yordania serta Uni Emirat Arab pada Senin, 31 Agustus 2026. Eskalasi militer ini meluas setelah Korps Garda Revolusi Islam menargetkan pangkalan udara King Hussein dan Azraq di Yordania serta Pangkalan Udara Al Minhad di Uni Emirat Arab sebagai respons atas gempuran AS di Pulau Larak. Sistem pertahanan udara Amerika Serikat dilaporkan berhasil mencegat sebagian besar proyektil yang diluncurkan oleh pihak Teheran dalam insiden tersebut.

"Kami akan memukul mereka dengan keras. Akan ada respons," ujar Trump.

Trump membeberkan pertimbangan taktis militer saat menghadapi serangan udara tersebut di wilayah konflik. "Satu rudal tidak akan mengenai sasaran yang signifikan, sehingga pasukan membiarkannya melintasi wilayah udara," kata Trump.

Di sisi lain, Presiden AS itu membagikan rekaan visual dampak pengeboman terhadap infrastruktur energi vital milik Iran melalui platform media sosial pribadinya. "Pulau Kharg hancur lebur!" tulis Trump.

Sementara itu, otoritas Uni Emirat Arab membantah klaim bahwa Pangkalan Udara Al Minhad telah menjadi sasaran tembak, meski mengonfirmasi pencegatan satu drone Iran di wilayah perairannya. Komando Pusat AS mempertimbangkan operasi militer susulan di sepanjang Selat Hormuz untuk meredam potensi pencegatan kapal tanker minyak serta menjaga keamanan lalu lintas laut internasional. Dari pihak Iran, Juru bicara Angkatan Bersenjata Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi menyampaikan klaim statistik terkait dampak fatal dari rangkaian operasi militer balasan yang diluncurkan pasukannya.

"Setidaknya seribu tentara Israel tewas dalam serangan balasan Republik Islam yang menyasar instalasi militer, lokasi strategis, dan pusat intelijen di seluruh wilayah pendudukan," kata Shekarchi.

Ia juga menuduh pihak oposisi tidak transparan mengenai jumlah aktual korban jiwa dalam eskalasi yang terus berlangsung sejak awal tahun. "AS dan Tel Aviv tidak jujur terkait korban jiwa militer dan menyembunyikan statistik yang sebenarnya," ujar Shekarchi. Ia menyebut penundaan pengungkapan informasi korban jiwa militer pernah terjadi pada konflik-konflik terdahulu di kawasan lain.

"AS baru mengungkapkan kematian pasukannya dalam perang Afghanistan dan Irak bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi, dan baru kemudian memulangkan jenazah mereka kepada keluarga masing-masing," kata Shekarchi.

Rangkaian bentrokan terbaru ini memperpanjang ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus membara sejak akhir Februari 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed