AS Tingkatkan Tekanan Ekonomi dan Militer Terhadap Iran

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara baru ke fasilitas pertahanan udara dan aset militer Iran pada Selasa (1/9/2026), di tengah eskalasi konflik militer yang telah berlangsung selama enam bulan dan menelan pengeluaran hingga 37,5 miliar dolar AS.

Eskalasi militer ini dipicu oleh serangan balasan Iran terhadap aset militer AS di Yordania serta gangguan terhadap kapal komersial di kawasan Selat Hormuz. Dalam operasi tersebut, sebanyak 18 tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas, sementara korban jiwa dari pihak warga Iran mencapai ribuan orang.

Presiden AS Donald Trump menanggapi laporan media mengenai upaya Washington mendesak Tehran kembali ke meja perundingan melalui tekanan ekonomi. Trump menegaskan bahwa prioritas Washington saat ini adalah melemahkan posisi Iran di kawasan tersebut.

"Saya tidak mencoba memaksa Iran ke meja perundingan, seperti yang dilaporkan ABC Fake News," tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip The Hill.

Trump juga mengklaim bahwa posisi Amerika Serikat saat ini jauh lebih menguntungkan karena dominasi militer di perairan strategis kawasan.

"Saya tidak peduli sedikit pun jika mereka menandatuangi kesepakatan yang tidak berharga bagi mereka," lanjutnya.

Mantan Presiden AS itu membandingkan kondisi ekonomi dan kontrol wilayah sebagai indicator keberhasilan operasi militer AS saat ini.

"Saya jauh lebih menyukai posisi kita sekarang, dengan hampir total kendali atas Selat Hormuz dan ekonomi mereka yang benar-benar runtuh," tulis Trump.

Ia memandang bahwa dinamika internal Iran saat ini sedang bergerak menuju perubahan yang tidak dapat dihindari.

"Mereka hanya menjalani sesuatu yang tak terelakkan," katanya.

Melalui unggahan yang sama, Trump menyoroti daya tahan rezim Tehran dalam menghadapi tekanan geopolitik dan domestik.

"Kapan rakyat Iran akan bangkit dan melawan?" kata Trump.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengonfirmasi strategi peningkatan sanksi keuangan untuk menekan ketahanan ekonomi Iran dalam wawancara dengan Fox Business. Bessent menegaskan Washington akan memperketat sanksi perbankan dan menindak lembaga yang berinteraksi dengan Tehran.

Guna merespons serangan beruntun AS, militer Iran melepaskan tembakan rudal dan drone pada Rabu (2/9/2026) pagi ke fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Irak. Eskalasi ini memicu perdebatan di Oval Office terkait definisi operasional dari konflik tersebut.

"Saya bisa memahami apa yang dia [Vance] katakan. Saya menyebutnya sebagai konflik militer karena bagi kita ini adalah hal kecil. Ini bukan perkara besar," ujar{"title": "AS Tingkatkan Tekanan Militer dan Ekonomi Terhadap Iran", "title_slug": "as-tingkatkan-tekanan-militer-ekonomi-iran", "description": "Pemerintah Amerika Serikat meningkatkan gempuran militer dan tekanan ekonomi terhadap Iran di tengah kebuntuan negosiasi kesepakatan nuklir.", "keywords": "Amerika Serikat, Iran, Donald Trump, Selat Hormuz, konflik militer, nuklir, Scott Bessent, Chris Wright", "category_id": "18", "tags": "Amerika Serikat, Iran, Konflik Iran, Donald Trump, Selat Hormuz", "thumbnail": "ilustrasi instalasi militer perang", "translated_caption": "Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/U.S. NETWORK POOL)", "content": "

Pemerintah Amerika Serikat terus meningkatkan gempuran militer dan tekanan ekonomi terhadap Iran untuk melumpuhkan kemampuan nuklir negara tersebut, di tengah konflik bersenjata yang telah berlangsung selama enam bulan hingga September 2026.

Eskalasi militer dan ekonomi ini berdampak langsung pada stabilitas jalur pelayaran global di Selat Hormuz serta memicu kekhawatiran krisis energi dunia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertanyakan ketahanan rezim pemerintahan di Tehran dan menyangkal laporan media yang menyebut Washington memaksakan perundingan.

"Saya tidak mencoba memaksa Iran ke meja perundingan, seperti yang dilaporkan ABC Fake News," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menambahkan bahwa dirinya tidak terlalu memedulikan apakah pihak Iran bersedia menandatangani perjanjian diplomatik baru atau tidak.

"Saya tidak peduli sedikit pun jika mereka menandatangani kesepakatan yang tidak berharga bagi mereka," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia mengklaim posisi Washington saat ini sangat menguntungkan karena menguasai jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk.

"Saya jauh lebih menyukai posisi kita sekarang, dengan hampir total kendali atas Selat Hormuz dan ekonomi mereka yang benar-benar runtuh," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump meyakini bahwa kondisi internal negara tetangga Teluk itu akan sampai pada titik balik.

"Mereka hanya menjalani sesuatu yang tak terelakkan," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia menuturkan harapannya terkait potensi perlawanan domestik dari warga Iran sendiri.

"Kapan rakyat Iran akan bangkit dan melawan?" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Mengenai kualifikasi ketegangan militer yang telah merenggut nyawa belasan prajurit AS, Trump menilai skala operasi tersebut masih relatif terbatas.

"Saya bisa memahami apa yang dia [Vance] katakan. Saya menyebutnya sebagai konflik militer karena bagi kita ini adalah hal kecil. Ini bukan perkara besar," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menegaskan prioritas utama dari aksi militer bersama Israel adalah menggagalkan program senjata nuklir Tehran.

"Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, karena jika mereka memilikinya, Anda mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Merujuk pada target sasaran militer baru di kawasan Natanz, Washington mengindikasikan serangan lanjutan ke fasilitas bawah tanah.

"Kita mungkin akan menyerang Pickaxe segera. AS mengetahui semua orang yang bergerak di Pickaxe dan di seluruh Iran," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia kembali menegaskan klaim keberhasilan operasi militer yang dijalaninya di beberapa wilayah.

"Banyak orang tidak menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik militer karena itu masalah kecil bagi kita. Itu bukan hal besar. Kita sudah menangani Venezuela, dan kita sudah menangani ini," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump membandingkan pencapaian politik luar negerinya di tingkat global.

"Apa yang telah kami lakukan sungguh luar biasa. Kami mengambil alih Venezuela dan pada dasarnya kami telah mengambil alih Iran," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia menilai pencapaian strategis jauh lebih krusial dibandingkan istilah istilah teknis konflik.

"Saya rasa tidak penting apa sebutannya. Yang penting adalah fakta bahwa kita telah meraih keberhasilan besar. Kita telah menghentikan Iran memiliki senjata nuklir," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Langkah pengetatan ekonomi juga ditekankan oleh kementerian terkait guna mempersempit ruang gerak finansial Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kepada Fox Business bahwa Washington akan "mencekik Iran secara ekonomi" dan memaksanya kembali berunding.

Bessent mengingatkan bahwa keruntuhan ekonomi total Iran dapat terjadi dalam hitungan minggu atau bulan, serta mengancam akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap bank-bank Iran maupun lembaga keuangan internasional yang nekat bertransaksi dengan Teheran.

Sementara itu, pejabat pengawas sektor energi AS mengisyaratkan bahwa opsi diplomatik mungkin tidak lagi menjadi pilihan utama.

"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir," kata Chris Wright, Menteri Energi AS.

Wright menjelaskan skenario alternatif jika jalur negosiasi menemui jalan buntu sepenuhnya.

"Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu," ujar Chris Wright, Menteri Energi AS.

Ia menegaskan pentingnya penghancuran infrastruktur militer strategis lawan.

"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya," kata Chris Wright, Menteri Energi AS.

Wright menyoroti kelemahan kapasitas produksi persenjataan Tehran saat ini.

"Mereka membangun infrastruktur rudal besar untuk memproduksi rudal, yang sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal," ujar Chris Wright, Menteri Energi AS.

Rangkaian konflik ini mencatatkan kerugian anggaran AS melebihi 37,5 miliar dolar AS dan menewaskan 18 tentara Amerika Serikat, sementara milisi Iran terus menembakkan rudal ke aset AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Irak.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed