Donald Trump Usul Ganti Nama Selat Hormuz Jadi 'Selat Trump'
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengusulkan penggantian nama Selat Hormuz menjadi 'Selat Trump' melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Rabu, 2 September 2026. Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz kini berada di bawah kendali AS, yang menjadi alasan di balik usulan pergantian nama tersebut. "Sekarang setelah kami menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump? Seperti Amerika sendiri, selat itu akan menjadi lebih 'panas' dari sebelumnya!" ujar Trump, dilansir AFP.
Usulan ini muncul saat ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat, dengan aktivitas pelayaran dan pengiriman minyak menjadi perhatian utama.
Sebelumnya, Trump berulang kali mengklaim AS memiliki kendali besar atas jalur strategis tersebut, bahkan pada Agustus 2026 mengunggah peta yang menyebut Selat Hormuz sebagai "Wilayah Baru AS". Trump juga menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap Iran masih berlaku, sambil menyebut Selat Hormuz tetap terbuka setelah ranjau laut dihilangkan.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, memberikan sindiran tajam terhadap pernyataan Trump dengan menyamakan kondisi kejiwaan Trump dengan "skizofrenia" dan "delusi". "Skizofrenia adalah gangguan psikotik kompleks yang memengaruhi cara berpikir dan persepsi realitas seseorang," ujar Gharibabadi, dikutip dari Russia Today pada 31 Agustus 2026.
Menurut Gharibabadi, pasien dengan kondisi tersebut memerlukan pengawasan dan perawatan intensif. Gharibabadi menanggapi klaim Trump yang menyebut AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz dan menyatakan akan mempertahankan blokade tersebut sebagai "tembok baja". Trump juga meremehkan kemampuan militer Iran dengan mengatakan negara itu tidak memiliki angkatan laut maupun angkatan udara yang berarti.
Sementara itu, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menyebut klaim kepemilikan AS atas Selat Hormuz tidak masuk akal.
Akibat ketegangan ini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis dari 130 kapal per hari menjadi hanya belasan kapal. Washington kini lebih memilih strategi tekanan sanksi ekonomi untuk mengisolasi keuangan Teheran daripada aksi militer langsung, menyusul laporan penurunan pasokan amunisi berpemandu dan sistem pertahanan udara AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan ketidakgentaran Teheran terhadap tekanan finansial AS dan menyebut langkah itu hanya pengulangan taktik lama yang gagal menundukkan kedaulatan negaranya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow