Dosen UWM Ungkap Telepresence Pemicu Utama Belanja Impulsif Live Streaming

Smallest Font
Largest Font

Penelitian akademis Universitas Widya Mataram Yogyakarta mengungkap teknologi telepresence menjadi faktor pendorong utama yang memicu perilaku belanja impulsif konsumen saat menyaksikan siaran langsung e-commerce pada Jumat (14/8/2026).

Kajian yang menerapkan kerangka kerja Stimulus-Organism-Response (S-O-R) tersebut melibatkan 280 responden pembeli impulsif. Riset mencatat sebanyak 82,9 persen peserta merupakan pelajar dan mahasiswa, dengan 67,9 persen di antaranya berusia 17-21 tahun. Platform TikTok Shop menjadi media yang paling banyak digunakan responden sebesar 55,7 persen, disusul Shopee sebesar 42,1 persen.

Dosen Program Studi Kewirausahaan Universitas Widya Mataram, Niken Permata Sari, menjelaskan bahwa riuhnya kolom komentar tidak memicu rasa percaya maupun keasyikan belanja.

"Banyak pihak mengira bahwa semakin ramai yang berkomentar, maka konsumen akan semakin percaya dan asyik berbelanja. Hasil riset kami justru membuktikan sebaliknya," ujar Niken Permata Sari, S.E., M.Sc., dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram.

Interaksi komentar yang bergerak terlalu cepat berpotensi menjadi distraksi visual atau cognitive overload bagi konsumen muda yang makin skeptis terhadap akun bayaran maupun spam.

"Pengalaman spasial virtual ini terbukti menjadi prediktor utama dalam memicu keasyikan mendalam (flow experience) serta membangun kepercayaan konsumen (consumer trust)," kata Niken Permata Sari, S.E., M.Sc., dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram.

Strategi penjualan yang terlalu agresif juga dinilai berisiko mengganggu kenyamanan penonton dalam mengambil keputusan berbelanja.

"Jika streamer terlalu agresif berjualan (hard selling), penonton justru akan merasa tertekan dan keluar dari kondisi relaksasi belanjanya," ungkap Niken Permata Sari, S.E., M.Sc., dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram.

Penguasaan visualisasi produk yang interaktif dan realistis disarankan menjadi prioritas bagi para pelaku UMKM dan industri e-commerce dibanding sekadar memanipulasi keramaian interaksi.

"Alih-alih memanipulasi keramaian kolom komentar atau sekadar berfokus pada teknik jualan yang agresif, penjual daring disarankan untuk lebih mengoptimalkan kualitas visualisasi produk dan teknologi siaran yang menghadirkan pengalaman belanja layaknya di dunia nyata," kata Niken Permata Sari, S.E., M.Sc., dosen Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram.

Di sisi lain, efektivitas siaran langsung bagi pelaku usaha mikro turut dipengaruhi oleh kejelasan target operasional dan kesiapan konsep penjualan.

Praktisi Eghi Poetra memaparkan bahwa siaran langsung dapat menjadi sarana promosi fleksibel sekaligus tempat sosialisasi.

"Bagi pelaku UMKM, live selling dapat menjadi sarana promosi yang relatif fleksibel dan interaktif," kata Eghi Poetra, pembicara program Muda Kreatif RRI Pro 2 FM Lhokseumawe.

Aktivitas siaran langsung yang dieksekusi tanpa perencanaan matang berisiko menjadi kegiatan rutin tanpa memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnis.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed