BPS Catat Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen Kuartal II 2026

Smallest Font
Largest Font

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026 di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Capaian tersebut mencatatkan kenaikan dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 5,12 persen, meskipun lebih lambat dari kuartal I 2026 yang tumbuh 5,61 persen.

Secara kuartalan, PDB nasional melonjak 3,73 persen. Kinerja ekonomi periode ini didukung oleh kontribusi utama dari lima sektor lapangan usaha, yakni industri pengolahan yang tumbuh 4,52 persen, perdagangan sebesar 6,39 persen, konstruksi mencapai 6,68 persen, serta pertanian sebesar 3,80 persen. Di sisi lain, sektor pertambangan mengalami kontraksi hingga 1,64 persen.

Secara spasial, Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi 56,47 persen dan tumbuh 5,65 persen. Kinerja wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan tertinggi nasional mencapai 10,6 persen atau tumbuh 6,10 persen secara yoy, melesat dibanding kuartal II 2025 yang sebesar 3,72 persen. Perekonomian Sulawesi juga tercatat menguat dengan tumbuh 5,53 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud menyampaikan rincian hasil rekapitulasi data pertumbuhan ekonomi nasional tersebut dalam acara resmi.

"Pertumbuhan ekonomi indonesia pada triwulan II 2026 bila dibandingkan triwulan II 2025 atau YoY tumbuh 5,29%," katanya dalam konferensi pers di Kantor BPS Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia menyoroti performa impresif dari beberapa wilayah di luar Pulau Jawa yang berhasil melampaui laju nasional.

"Pertumbuhan di Bali dan Nusa Tenggara dan Sulawesi di atas pertumbuhan nasional," kata M. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Rabu (5/8/2026).

Ia kembali menegaskan angka pertumbuhan tahunan nasional dalam pernyataan tambahannya.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026, bila dibandingkan dengan kuartal II 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,29 persen," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik M. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Rabu (5/8).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya telah memproyeksikan laju ekonomi nasional tetap terjaga berkat sokongan investasi dan program insentif.

"(Pertumbuhan ekonomi kuartal II) di atas 5% masih. Kuartal II masih terkait dengan investasi, terkait dengan beberapa insentif yang didorong oleh pemerintah," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).

Pemerintah optimistis dapat mempertahankan laju ekspansi ekonomi pada separuh akhir tahun ini melalui optimalisasi penyerapan anggaran.

"Ya kuartal III dan IV tentu salah satu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi," ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menyangsikan temuan BPS tersebut karena dinilai bertolak belakang dengan kondisi riil masyarakat dan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia.

"Tidak ada kenaikan yang signifikan dari sisi keyakinan konsumsi masyarakat," ujar Huda saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Huda turut mempertanyakan lonjakan di sektor ritel yang diklaim tumbuh 6,39 persen di tengah penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) BI pada periode April hingga Juni 2026.

"Jadi sektor ritel mengalami penurunan tajam, tapi pemerintah menyebutkan sektor ritel tumbuh tinggi," lanjut Huda.

Analis CELIOS ini juga menyoroti kejanggalan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen yang tidak sejalan dengan Indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang berada di level kontraksi.

"Ketika di bawah 50, maka perusahaan tidak melakukan ekspansi usahanya yang artinya tambahan produksi akan sangat minim," ucap Huda.

Ia menambahkan bahwa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih didominasi oleh impor kendaraan, seperti unit mobil niaga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

"Hal ini bisa jadi pembenaran kita melakukan importasi secara terus-menerus," ungkap Huda.

Mengenai porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi yang melemah menjadi 72–73 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 74–75 persen, Huda menilai ada pergeseran struktur pengeluaran.

"Kecurigaan saya, kenaikan konsumsi ditopang oleh orang kaya yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan pengeluaran semakin melebar," kata Huda.

Sebagai perbandingan global, pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang Indonesia pada kuartal II 2026 mencatatkan hasil bervariasi, seperti Vietnam yang tumbuh 8,4 persen, Malaysia 5,8 persen, Singapura 5,7 persen, China 4,3 persen, Korea Selatan 3,7 persen, dan Amerika Serikat 2,1 persen.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed