Energi Mega Persada Pacu Produksi Gas dan Penyesuaian Valuasi Saham

Smallest Font
Largest Font

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memicu ekspansi produksi gas melalui tajak sumur pengembangan SCGD-02 di Lapangan Secanggang, Blok Gebang, Langkat, Sumatra Utara, pada Rabu, 12 Agustus 2026. Aksi korporasi ini berjalan beriringan dengan penyesuaian target harga saham perseroan menjadi Rp1.200 per saham usai menggelar penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Melalui rights issue, emiten migas tersebut menawarkan maksimal 13,28 miliar saham baru Seri B berharga pelaksanaan Rp310 per saham dengan rasio 2:1. Langkah pendanaan yang berpotensi menghimpun dana hingga Rp4,12 triliun ini memicu peningkatan jumlah saham beredar dari 26 miliar menjadi 39,8 miliar saham. PT Bakrie Kalila Investment bertindak sebagai pembeli siaga yang siap menyerap hingga 10,5 miliar saham.

Penambahan jumlah saham tersebut mengubah kalkulasi harga wajar ENRG yang sebelumnya dihitung BRI Danareksa Sekuritas berada pada rentang Rp1.500 hingga Rp1.700 per saham. Meski demikian, potensi penguatan saham dinilai masih terbuka sebesar 20 persen dari harga pasar pasca-penyesuaian. Pada penutupan perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, harga saham ENRG parkir di level Rp1.265 per saham.

Di samping rights issue, pendorong pertumbuhan perseroan berasal dari pengoperasian Blok Gebang yang ditargetkan mulai berproduksi pada semester I-2027. Pada tahap awal, blok ini diproyeksikan menyumbang volume 40 juta kaki kubik gas per hari (Mmscfd) atau setara 15 persen dari total produksi gas perseroan saat ini, sebelum ditingkatkan menjadi 100 Mmscfd pada awal 2030.

Katalis positif tersebut disampaikan oleh manajemen dalam diskusi virtual bersama analis.

"Jadi, sangat signifikan katalis positif dari aset Gebang ini," ucap Kepala Investor Relations PT Energi Mega Persada Tbk Herwin W. Hidayat dalam diskusi virtual yang digelar BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (13/8/2026).

Herwin menjelaskan bahwa pengembangan aset tersebut dilakukan melalui kemitraan strategis bersama perusahaan BUMN asal Jepang, Japex, sejak 2025 dengan skema kepemilikan saham 50:50. Japex turut mengucurkan pinjaman plafon sekitar US$110 juta bagi perusahaan patungan pengelola Blok Gebang.

"Jadi, kepemilikan di Gebang yang tadinya 100% oleh ENRG, sekarang menjadi 50%-50% oleh ENRG dan Japex. Kami cukup yakin, aset Gebang dapat mulai beroperasi di semester I-2027," ujarnya.

Pengembangan potensi gas di Lapangan Secanggang bakal disalurkan melalui jaringan pipa Sumatra Utara untuk memasok kebutuhan energi sektor industri dan publik.

"Gas kami akan mendukung industri lokal serta membantu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia," ujarnya Vice President Overseas Business Division JAPEX Satoshi Kanno.

Proses pengeboran sumur SCGD-02 dijadwalkan dimulai pada 15 Agustus 2026 sebagai komitmen penguatan ketahanan energi nasional.

"Pemboran ini bagian dari upaya memenuhi target pemerintah dalam meningkatkan produksi dan lifting migas," kata Kepala SKK Migas Sumbagut Sebastian Julius.

Langkah investasi hulu migas ini dinilai menjadi pijakan krusial bagi keberlanjutan pasokan energi nasional di masa mendatang.

"Investasi hulu migas adalah investasi untuk masa depan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Wakil Direktur Utama PT Energi Mega Persada Tbk Edoardus Ardianto.

Edoardus menambahkan, fokus perseroan dalam 3 hingga 5 tahun ke depan adalah mengembangkan pertumbuhan organik pada aset-aset gas. Strategi akuisisi aset produktif tetap diprioritaskan guna menekan pengeluaran belanja modal eksplorasi, dengan target kontribusi produksi gas tetap di atas 70 persen.

"Jadi, kami memproyeksikan dalam 3-5 tahun depan, kontribusi dari produksi gas secara total masih di atas 70%," ujar Edoardus.

Sentimen lain yang memengaruhi kinerja perseroan adalah penemuan cadangan migas baru di Blok Bentu, Selat Malaka, South CPP, dan Blok Sengkang, serta pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Dari hasil kalkulasi kami, value dari Energi Mega Persada itu berada di kisaran Rp 1.500-Rp 1.700, dengan angka tepatnya Rp1.650 menggunakan perhitungan discounted cash flow," jelasnya Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas Abida M. Armand, Kamis (13/8).

Penyesuaian valuasi dilakukan secara teknis murni akibat masuknya saham-saham baru ke pasar.

"Fair value-nya bukan turun, tetapi ini dikarenakan adanya harga teoritis yang baru karena ada penambahan jumlah saham yang baru," kata Abida.

Sensitivitas kinerja EBITDA perseroan diperkirakan naik sebesar 4 persen untuk setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$5 per barel.

"Setiap peningkatan US$ 5 per barel akan menambah 4% ke EBITDA menurut analisis kami, tetapi risiko yang perlu dicermati adalah harga oil sangat sensitif dan cukup volatile," ucapnya.

Dukungan atas operasional pemboran juga disampaikan oleh pemerintah daerah setempat demi mempercepat kesejahteraan wilayah.

"Mari jadikan momentum tajak sumur SCGD-02 sebagai simbol energi berkembang, investasi tumbuh, masyarakat sejahtera, lingkungan tetap terjaga, dan Langkat semakin maju," tutupnya Plt. Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, S.H. melalui Asisten II Setdakab Langkat Drs.

H. Hermansyah.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed