Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Penutupan Bandara di Empat Provinsi
Erupsi Gunung Anak Krakatau mempengaruhi wilayah Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat dengan hujan abu vulkanik, menyebabkan penutupan sementara empat bandara utama hingga Senin, 7 September 2026.
Sejak erupsi pada Jumat, 4 September 2026, status Gunung Anak Krakatau berada di Siaga Level III, dengan kondisi kode merah untuk penerbangan, menurut Prof Dr Erma Yulihastin, pakar klimatologi dari BRIN.
"Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat," kata Erma.
Empat bandara yang terdampak adalah Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Radin Inten II, dan Husein Sastranegara. Penutupan akan berlangsung hingga pukul 18.00 WIB pada hari yang sama.
Menurut UCAR Center for Science Education, partikel abu vulkanik yang sangat kecil dan ringan dapat bertahan di atmosfer selama berhari-hari hingga berbulan-bulan, terutama jika letusannya besar, yang dapat memengaruhi iklim dan menghalangi sinar matahari.
United States Geological Survey (USGS) menambahkan bahwa hujan abu vulkanik bisa mengganggu aktivitas perjalanan selama beberapa hari. Contoh historis termasuk letusan Gunung Krakatau 1883 dan Gunung Tambora 1815 yang memengaruhi iklim global.
MIT Climate Portal menyebut 1816 sebagai 'tahun tanpa musim panas' akibat letusan Tambora yang menurunkan suhu global hingga 0,556 °C.
Penelitian Universitas Colorado Boulder tentang letusan Gunung Kelud 2014 menemukan bahwa abu vulkanik bisa bertahan lama di atmosfer. "Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama," ujar Yunqian Zhu, ilmuwan peneliti di CU Boulder.
"Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan. Itu tampak seperti ab," tambah Zhu.
Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika, serpihan kaca tajam yang berbahaya bagi mata, hidung, mulut, dan kulit.
"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena, antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky.
USGS menjelaskan abu vulkanik merupakan partikel kecil bergerigi dari batuan dan kaca alami, bukan abu lembut hasil pembakaran.
British Geological Survey menyebut bentuk abu vulkanik sebagai serpihan kecil, tajam, dan bersudut yang dapat merusak, termasuk membahayakan pesawat terbang.
World Meteorological Organization (WMO) mengingatkan bahwa abu vulkanik dan gas dapat menyebabkan kerusakan mesin pesawat, penyumbatan filter, serta penurunan kualitas bahan bakar.
Oleh karena itu, WMO menjalankan International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api pada penerbangan dunia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow