FLOQ Proyeksikan Tren Harga Bitcoin Berpotensi Tembus US150 Ribu

Smallest Font
Largest Font

Tekanan harga yang membentengi perdagangan Bitcoin di kisaran US$63.334 pada pertengahan Agustus 2026 dinilai bukan sebagai indikator tren penurunan struktural. Penurunan tahunan sebesar 45,98 persen tersebut merupakan bentuk normalisasi pasar pascarekor tertinggi tahun lalu.

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menjelaskan bahwa koreksi tajam terjadi akibat basis pembanding harga tahun sebelumnya yang berada di atas level US$120.000. Saat ini, area US$62.000 hingga US$65.000 menjadi zona penahan tekanan jual.

"Koreksi harga Bitcoin yang cukup dalam secara tahunan ini sebenarnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Secara teknikal, ini bukan semata-mata BTC sedang dalam tren penurunan struktural, melainkan proses normalisasi setelah euforia harga yang sangat tinggi tahun lalu," kata Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ.

Kondisi historis menunjukkan bahwa aset kripto terbesar ini kerap melalui fase konsolidasi sebelum menemukan titik keseimbangan baru. Ketahanan Bitcoin di atas batas psikologis utama menjadi fokus pengamatan pasar saat ini.

"Jadi perhatian saya bukan besaran koreksinya semata, tapi apakah BTC masih mampu bertahan di atas level-level support psikologis penting," ujar Yudhono Rawis.

Proyeksi pergerakan harga Bitcoin pada paruh kedua tahun 2026 bergerak dalam rentang lebar akibat tingginya ketidakpastian. Skenario konservatif menempatkan harga di kisaran US$45.000–US$90.000, skenario optimistis pada US$95.000–US$120.000, sedangkan skenario paling bergairah mencapai US$150.000.

"Saya pribadi tidak ingin memberi angka tunggal sebagai 'prediksi', karena itu bisa menyesatkan, apalagi mengingat karakter Bitcoin yang historisnya sangat volatil dan sering bergerak di luar ekspektasi mayoritas analis," kata Yudhono Rawis.

Empat faktor utama diprediksi menjadi penentu pergerakan harga, yaitu kebijakan suku bunga The Fed, aliran dana ETF Bitcoin spot, kondisi geopolitik, serta indikator teknikal. Penurunan arus masuk pada ETF Bitcoin mencerminkan sikap hati-hati dari kelompok investor institusional.

Pasar domestik turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta dinamika regulasi. Pelemahan mata uang rupiah berpotensi meningkatkan nominal harga konversi Bitcoin di tingkat lokal.

Perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18–19 Agustus serta rilis notulen rapat FOMC The Fed pada 19 Agustus. Dua agenda moneter ini diprediksi memicu volatilitas harga aset berisiko.

"Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan kombinasi kebijakan BI dan arah komunikasi The Fed. Dua katalis moneter besar yang muncul hampir bersamaan dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasilnya berbeda dari ekspektasi," ujar Yudhono Rawis.

Penembusan area US$65.300 menjadi syarat utama bagi Bitcoin untuk membuka ruang kenaikan lanjutan. Sebaliknya, kegagalan menjaga batas US$64.000 dapat memperbesar risiko koreksi harga di pasar global.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed