FTSE Russell Coret 29 Saham Indonesia dan Tunda Tambah Emiten Baru
Penyedia indeks global FTSE Russell merombak susunan konstituen saham Indonesia dalam peninjauan berkala September 2026 dengan mengeluarkan 29 emiten, sekaligus menunda penambahan saham baru dari pasar modal tanah air hingga Desember 2026.
Keputusan perombakan dan penundaan indeks tersebut diumumkan pada pertengahan Agustus 2026. Langkah ini memberikan waktu tambahan bagi penyedia indeks asal Inggris tersebut untuk mengamati efektivitas reformasi transparansi yang dijalankan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Perubahan hasil tinjauan indeks yang tercantum dalam berkas-berkas terlampir dapat mengalami revisi hingga akhir jam kerja pada hari Jumat, 4 September 2026. Mulai hari Senin, 7 September 2026, perubahan hasil tinjauan indeks tersebut akan dianggap final," tulis pengumuman FTSE Russell.
Penundaan mencakup penambahan emiten yang baru melakukan penawaran umum perdana saham (IPO), perpindahan segmen kapitalisasi, peningkatan porsi saham publik (free float), hingga penyesuaian bobot saham. Kebijakan ini juga membawa potensi penghapusan emiten yang masuk daftar kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
"Langkah ini memberikan waktu tambahan untuk mengamati dan memantau reformasi pasar serta efektivitasnya," bunyi pengumuman FTSE Russell.
BEI mencatat 56 saham berada dalam daftar HSC per 19 Agustus 2026, termasuk emiten besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bukalapak.com Tbk (BELI). Penyesuaian konstituen FTSE akan berlaku efektif mulai Senin, 21 September 2026, dengan tanggal rebalancing pada Jumat, 18 September 2026.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pihak bursa menyambut baik langkah observasi lanjutan yang dilakukan oleh lembaga pengelola indeks internasional tersebut.
"BEI mengapresiasi keputusan global index provider terkait dengan keputusan FTSE atas treatment untuk pasar modal Indonesia pada September 2026, yang memperpanjang proses monitoring dan observasi atas efektivitas reformasi yang dilakukan," ujar Jeffrey Hendrik.
Guna memenuhi kriteria internasional, otoritas bursa telah menerapkan sejumlah pembenahan, seperti merilis data pemegang saham di atas 1 persen, memasukkan price impact ratio dalam metode HSC sejak 15 Juli 2026, serta mempublikasikan daftar konsentrasi kepemilikan.
"Kami akan terus menjalin komunikasi dengan seluruh global index provider untuk menjawab seluruh concern dari Global Investor dan meningkatkan integritas serta governance pasar," paparnya.
Inisiatif lanjutan juga terus disiapkan oleh pengelola bursa untuk memperkuat tingkat keterbukaan informasi di pasar modal.
"Hal ini terus kami lakukan untuk meningkatkan kepercayaan dari seluruh Investor pasar modal Indonesia," pungkas Jeffrey Hendrik.
Daftar emiten yang mengalami perubahan status atau keluar dari indeks FTSE meliputi PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), PT Cardig Aero Services Tbk (CASS), PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS), PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), PT Intiland Development Tbk (DILD), PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE), PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON), PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA), PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI), PT Medela Potentia Tbk (MDLA), PT Multipolar Tbk (MLPL), PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), PT Paninvest Tbk (PNIN), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), dan PT Trans Power Marine Tbk (TPMA).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow