FTSE Russell Coret Saham DSSA dari Kategori Large Cap
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dipastikan keluar dari kelompok indeks FTSE Large Cap mulai 22 Juni 2026 setelah FTSE Russell merilis hasil tinjauan kuartalan Mei 2026 akibat konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Langkah ekstrem dari FTSE Russell dan MSCI ini diambil karena struktur kepemilikan saham emiten energi dan infrastruktur milik Grup Sinar Mas tersebut dinilai terlalu sempit, sehingga memicu risiko likuiditas rendah dan volatilitas tinggi bagi investor institusi global.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menyatakan bahwa pencoretan ini akan memicu penyesuaian portofolio oleh investor institusi pasif yang mengikuti acuan indeks global tersebut.
"Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Nafan menambahkan bahwa emiten ini sebenarnya memiliki daya tarik dari sisi fundamental jangka panjang, termasuk adanya aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham yang diharapkan mampu memperbaiki pergerakan harga di pasar.
"Kalau DSSA ini kan karena faktor stock split 1 banding 25. Jadi itu juga supaya bisa meningkatkan likuiditas daripada pergerakan harga saham DSSA," ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Tekanan terhadap DSSA diperkirakan masih dominan karena emiten ini juga terdepak dari indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia untuk periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026 serta berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan bahwa hilangnya permintaan dari dana pasif global membuat pergerakan harga saham DSSA cenderung bergerak turun dan tidak menarik dari sisi risiko dan imbal hasil.
"Tekanannya masih dominan. Selama risiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif," ujar Reydi Octa, Pengamat pasar modal.
Reydi menilai status pengkonsentrasian saham yang tinggi membuat institusi cenderung menghindari emiten ini karena pasokan barang di pasar reguler menjadi sangat tipis.
"Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi," papar Reydi Octa, Pengamat pasar modal.
Bagi pelaku pasar modal ritel, Reydi menyarankan aksi wait and see atau melakukan penjualan sebagian jika terjadi pembalikan arah harga jangka pendek.
"Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik," kata Reydi Octa, Pengamat pasar modal.
Berdasarkan data BEI per 31 Maret 2026, tingkat konsentrasi kepemilikan DSSA mencapai 95,76 persen, di mana PT Sinar Mas Tunggal menguasai 59,90 persen dan saham treasury terkunci sebesar 19,68 persen.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian memaparkan bahwa fluktuasi saham dengan kapitalisasi jumbo seperti DSSA memiliki pengaruh yang sangat signifikan.
"Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan," ujar Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Meskipun mencatatkan pendapatan trailing twelve months sebesar Rp45,99 triliun dan laba bersih Rp3,79 triliun, sebagian besar saham publik DSSA dipegang institusi jangka panjang seperti UOB Kay Hian Private Singapura, Fitzgerald and Wilkinson Investments, dan Citibank Hong Kong.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow