Gas SO2 Anak Krakatau Terdeteksi Satelit, Ini Dampak Kesehatan dan Lingkungan

Smallest Font
Largest Font

Peningkatan konsentrasi gas sulfur dioksida (SO2) terdeteksi lewat citra satelit akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga Selasa (8/9/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Gas SO2 merupakan senyawa tak berwarna dengan aroma menyengat menyerupai korek api terbakar. Senyawa yang terdiri atas satu atom sulfur dan dua atom oksigen ini terlepas secara alami melalui aktivitas vulkanik maupun proses industri manusia.

Di Bumi, konsentrasi sulfur dioksida di atmosfer tergolong sangat kecil. Emisi pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi pada pembangkit listrik dan kendaraan bermotor, menjadi penyumbang terbesar gas ini di samping proses peleburan logam tembaga, nikel, serta seng.

Keberadaan SO2 di atmosfer luar bumi juga ditemukan dalam konsentrasi signifikan, salah satunya menjadi gas terbanyak ketiga di atmosfer Planet Venus.

Paparannya dalam jangka pendek dengan konsentrasi tinggi berpotensi mengganggu fungsi paru-paru, khususnya bagi penderita asma. Sementara itu, dampak jangka panjangnya diperkirakan mampu meningkatkan risiko penyakit hingga kematian meskipun buktinya masih terus diteliti.

Di udara, emisi SO2 memicu pembentukan oksida sulfur (SOx) yang dapat bereaksi dengan senyawa lain membentuk partikel halus. Partikel tersebut sanggup menembus paru-paru, memicu gangguan kesehatan, menciptakan kabut asap penghalang jarak pandang, hingga merusak material solid seperti batuan.

Dalam wujud gas konsentrasi tinggi, SOx berisiko merusak dedaunan dan menghambat pertumbuhan tanaman. Senyawa ini turut berkontribusi terhadap terjadinya hujan asam yang membahayakan kelestarian ekosistem sensitif.

Penjelasan Badan Geologi dan Imbauan Masyarakat

Terkait sebaran warna merah pada citra satelit di wilayah Jakarta, Jawa Barat, hingga Lampung, Badan Geologi Kementerian ESDM mengklarifikasi bahwa peta tersebut menggambarkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu.

Tampilan warna merah pada peta satelit tidak mengindikasikan bahwa udara yang dihirup masyarakat sehari-hari berada dalam kondisi berbahaya.

Meskipun demikian, Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tidak panik apabila mencium bau gas SO2. Warga disarankan menerapkan tiga langkah pencegahan: memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, berlindung di dalam bangunan, serta menghindari konsumsi air hujan karena berpotensi bersifat asam.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed