Gunung Anak Krakatau Erupsi Abu Vulkanik Bergerak Menjauh dari Lampung
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari pukul 00.47 WIB yang terekam dengan amplitudo maksimum 51 mm serta durasi 28 detik. Pemantauan lintas instansi menggunakan KRI Lepu-861 milik TNI AL mencatat sebaran abu vulkanik bergerak menjauh dari wilayah Lampung menuju arah barat daya pada siang hari.
Aktivitas vulkanik tersebut memicu rentetan gempa, meliputi satu kali gempa letusan, satu kali gempa low frequency beramplitudo 16 mm, satu kali gempa hybrid beramplitudo 26 mm, serta gempa tremor menerus. Sebaran debu vulkanik teridentifikasi membumbung dari permukaan hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer.
Pemantauan visual dari laut dilakukan oleh BPBD Provinsi Lampung bersama Basarnas, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, serta Institut Teknologi Sumatera di sekitar kawasan gunung api tersebut.
"Pemantauan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendapatkan gambaran kondisi terkini Gunung Anak Krakatau sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam pemantauan aktivitas vulkanik," kata BPBD Lampung.
Tim pemantau di lapangan melaporkan kemunculan asap tipis beserta emisi abu vulkanik berwarna kecokelatan yang keluar dari kawah aktif.
"Dari KRI Lepu, mendekati Gunung Anak Krakatau. Erupsi awan masih kita lihat dan itu abu vulkanik yang kecokelatan. Ini lah Gunung Anak Krakatau yang beberapa hari belakangan mengalami erupsi, saya melaporkan dari KRI Lepu. Demikian kondisi Gunung Anak Krakatau teramati mengeluarkan abu tipis dan asap, semoga kita jauh dari bencana," kata petugas Wahyu Hidayat.
Analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG pada pukul 13.00 WIB mengonfirmasi adanya perubahan arah sebaran material erupsi pada lapisan rendah hingga 5.000 kaki menuju ke barat daya melintasi Selat Sunda bagian barat dan kawasan Pandeglang.
Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung memberikan penjelasan teknis mengenai pergeseran arah sebaran abu vulkanik yang dipengaruhi oleh dinamika pergerakan angin atmosfer.
"Untuk kondisi siang ini, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik lebih mengarah ke barat daya sehingga cenderung menjauh dari wilayah Lampung," kata Yoyok Dewantoro, Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung.
Meskipun sebaran abu pada lapisan bawah cenderung menjauh, material vulkanik pada ketinggian 7.000 kaki terpantau masih mengarah ke barat laut yang mengover sebagian area Teluk Lampung.
"Perubahan arah sebaran ini sangat bergantung pada pola dan kecepatan angin. Jadi masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru karena arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu," ujar Yoyok Dewantoro, Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung.
Masyarakat mengimbau agar tidak bertindak hanya berpatokan pada pengamatan visual kasatmata karena potensi pergerakan abu dapat berdampak pada kualitas udara serta jarak pandang.
"Jadi masyarakat tetap perlu memantau informasi terbaru dari BMKG dan PVMBG," kata Yoyok Dewantoro, Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung.
Status Gunung Anak Krakatau bertahan pada Level III (Siaga) dengan zona bahaya radius 3 kilometer dari kawah aktif. Sementara itu, pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tetangga seperti Kota Tangerang mencatat kualitas udara masih berada dalam batas baku mutu aman pada level baik hingga sedang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow