Gatot Nurmantyo Minta Meritokrasi Ditegakkan di Tubuh TNI
Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa penegakan sistem meritokrasi harus menjadi fondasi utama dalam menentukan kepemimpinan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penegasan tersebut disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) di Jakarta pada Rabu (19/8/2026).
Gatot mengutarakan bahwa promosi dan penempatan jabatan perwira harus selalu didasarkan pada prestasi, kemampuan, moral, etika, pendidikan, serta pengalaman. Menurut Panglima TNI periode 2015-2017 tersebut, kepemimpinan militer akan terancam jika proses penjenjangan mengabaikan aspek-aspek dasar tersebut.
"Ketika meritokrasi benar-benar ditegakkan, maka hanya orang-orang yang berprestasi yang akan memimpin TNI," ujar Gatot dalam webinar "Kamu Bertanya, Jenderal Gatot Menjawab", dengan tema "81 Tahun Merdeka: Menuju Indonesia Tangguh dan Berdaulat yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Rabu (19/8/2026).
Eks KSAD itu menilai pergeseran penentuan jabatan yang menggantikan meritokrasi dengan kedekatan politik atau hubungan keluarga berpotensi merusak netralitas serta memicu frustrasi prajurit di lapangan.
"Untuk apa saya ke Papua sampai berdarah-darah, untuk apa saya berjuang, tapi ternyata yang naik orang yang tentara salon," katanya.
Gatot juga memberikan kritik keras terhadap oknum prajurit yang berupaya mengejar jenjang karir melalui manuver politik praktis.
"Mohon maaf saya agak kasar, orang-orang seperti itu adalah pelacur politik. Tentara itu tidak boleh begitu. Dia hanya bekerja, bekerja, bekerja yang terbaik untuk negeri ini. Biarkan pangkat pun adalah penghargaan," ucapnya.
Kualitas kepemimpinan dinilai menjadi faktor krusial karena TNI merupakan pilar utama penjaga kedaulatan negara. Gatot mengingatkan agar struktur dan organisasi militer fokus pada kesiapan menghadapi perang.
"Tiang utama untuk menjaga kedaulatan adalah TNI. Ketika TNI dipimpin orang-orang yang tidak pernah berperang atau takut perang, bisanya hanya berperang mulut, ya selesai sudah," kata Gatot.
Mantan Pangkostrad tersebut menambahkan bahwa bentuk organisasi militer idealnya dibuat lebih efisien dan lincah untuk merespons berbagai potensi ancaman.
"Pikiran domainnya TNI itu adalah perang. Organisasi dan pangkat hanya menyesuaikan dengan perang. Itu lebih efektif, lebih kecil, lebih lincah. Itulah militer," jelas Gatot.
Selain masalah internal kepemimpinan, Gatot memaparkan tiga langkah strategis pertahanan nasional, yakni penguatan pertahanan nirmiliter melalui ketahanan pangan, energi, dan air, modernisasi pertahanan siber, serta kemandirian industri pertahanan dalam negeri.
"Pada saatnya kelak Indonesia harus mampu memproduksi dan memelihara sistem pertahanan secara mandiri," kata eks Pangkostrad itu.
Gatot memungkasi pandangannya dengan mengingatkan pentingnya menjaga nilai kedaulatan bangsa dalam momen refleksi kemerdekaan.
"Akhirnya, refleksi 81 tahun kemerdekaan mengingatkan kita bahwa kedaulatan tidak pernah diberikan cuma-cuma. Ia harus terus diperjuangkan, dijaga, dan dipertahankan berapa pun harganya harus kita bayar," tegasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow