Gempa Flores M7,7 Memicu 2.768 Susulan dan Longsor Masif di NTT
Rangkaian gempa bumi susulan sebanyak 2.768 kali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Rabu (19/8/2026) pukul 05.00 WIB. Fenomena seismik ini terjadi setelah gempa utama berkekuatan M7,7 melanda kawasan tersebut pada Sabtu (15/8/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa dangkal akibat aktivitas tektonik Flores Back-Arc ini mengakibatkan 69 orang meninggal dunia dan 331 orang luka-luka. Kerusakan infrastruktur meluas di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka.
Rentetan guncangan susulan berada pada kisaran magnitudo M1,1 hingga M6,2. BMKG mengonfirmasi sebanyak 24 gempa di antaranya berukuran di atas M5,0, sementara 81 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Pada Rabu (19/8/2026) pukul 10.13 WIB, gempa susulan berkekuatan M5,1 kembali terjadi pada kedalaman 10 kilometer di laut, berjarak 50 kilometer arah timur laut Nagekeo. BMKG memastikan guncangan terbaru ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa pemantauan lapangan masih terus berjalan untuk memetakan dampak bencana secara menyeluruh.
"Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3-4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi," kata Wijayanto, Rabu (19/8/2026).
Pihak BMKG telah menerjunkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, serta pemantauan lanjutan dampak tsunami di wilayah terdampak.
"Maka dari itu, masyarakat diimbau untuk memperbarui informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," ujar Wijayanto.
BMKG juga menyiagakan tim teknis untuk memverifikasi struktur tanah guna mengantisipasi risiko bahaya sekunder di pemukiman warga.
"BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," tambah Wijayanto.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia Daryono memaparkan bahwa gempa M7,7 memicu runtuhan lereng serentak di jalur Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere akibat terlampauinya batas percepatan tanah maksimum.
"Pulau Flores didominasi oleh batuan vulkanik muda dan endapan piroklastik seperti tuf dan aglomerat yang mengalami pelapukan lanjut. Material tanah dan batuan pelapukan ini memiliki struktur rapuh serta kuat geser yang rendah, sehingga sangat tidak stabil ketika menerima guncangan dinamis secara mendadak," jelas Daryono.
Karakteristik batuan yang rapuh tersebut dikombinasikan dengan topografi wilayah yang didominasi pegunungan serta lereng terjal berkimiringan ekstrem.
"Kerentanan material batuan tersebut diperparah oleh kondisi morfologi Flores yang didominasi oleh pegunungan dan lereng-lereng terjal dengan kemiringan ekstrem," ujarnya.
Masyarakat diimbau tidak menempati bangunan yang mengalami kerusakan struktur karena bahaya keruntuhan akibat guncangan lanjutan.
"Bangunan yangg sudah mengalami retak struktur akibat gempa M7,7 sangat rentan roboh walau hanya diguncang gempa susulan dirasakan berkekuatan sedang," katanya.
Ancaman tanah longsor baru di area perbukitan dan tebing juga berpotensi meningkat apabila wilayah terdampak diguyur hujan deras.
"Guncangan gempa susulan yang berulang-ulang dirasakan (felt earthquake) dapat memicu longsor susulan dan longsor baru di daerah perbukitan, tebing, atau lereng terjal, terutama jika terjadi hujan," tegas Daryono.
Warga yang berada di lokasi pengungsian maupun pemukiman diminta memastikan kelancaran jalur evakuasi dari potensi penghalang reruntuhan material.
"Pastikan jalur keluar rumah atau tempat pengungsian bebas dari reruntuhan atau barang berat yang berpotensi menghalangi proses evakuasi saat guncangan susulan terjadi," imbau Daryono.
Koordinasi antara masyarakat, BMKG, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat terus dilakukan guna mengantisipasi perkembangan situasi di lapangan.
"Tetap tenang dan terus memantau pembaruan data resmi terkait aktivitas gempa dari BMKG serta arahan dari BPBD setempat," tukas Daryono.
Catatan sejarah menunjukkan kepulauan Nusa Tenggara memiliki kerentanan tinggi terhadap gempa dan tsunami, seperti peristiwa gempa M8,3 di Sumba pada 19 Agustus 1977 serta gempa M7,5 di Flores pada 1992.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow