Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Ruteng Usai Ribuan Gempa Susulan Flores

Smallest Font
Largest Font

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 24 Agustus 2026 pukul 04.20 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat pusat getaran berada di kedalaman 10 kilometer.

Lokasi koordinat gempa berada di 8.30 Lintang Selatan dan 120.62 Bujur Timur, atau berjarak sekitar 38 kilometer arah timur laut Ruteng. BMKG mengonfirmasi peristiwa ini tidak memicu gelombang tinggi di pesisir pantai.

"Tidak berpotensi tsunami," kata pihak BMKG melalui akun resmi X @infoBMKG, Senin, 24 Agustus 2026.

Peristiwa ini melengkapi deretan aktivitas seismik di Nusa Tenggara Timur setelah gempa utama M 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa tektonik dangkal di kedalaman 15 kilometer tersebut bersumber dari sesar aktif Flores Back-Arc Thrust dan merobohkan ratusan rumah hingga menewaskan puluhan warga Nagekeo.

BMKG mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan terjadi hingga Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB. Sebanyak 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 di antaranya berkekuatan di atas M 5,0.

Pepen Supendi dan tim peneliti BMKG dalam artikel ilmiah berjudul Dinamika Gempa Flores M7,7 Sebaran dan Klaster Gempa Susulan di Zona Flores Back-arc Thrust menyoroti keunikan fenomena tersebut. Jumlah gempa susulan justru meningkat pada hari kedua mencapai 746 kejadian, tidak menurun melandai secara langsung sebagaimana tren hukum Omori-Utsu.

"Pola magnitudo terhadap waktu juga masih menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo relatif besar masih terjadi beberapa hari setelah gempa utama," tulis Pepen Supendi dkk dalam penelitiannya.

Tim BMKG menjelaskan bahwa karakteristik titik hiposenter gempa susulan terbagi dalam beberapa klaster dan tidak homogen di satu titik.

"Klaster tersebut secara spasial dan kedalaman menunjukkan karakter yang berbeda dari konsentrasi utama di sekitar sumber gempa M7,7," tulis Pepen dkk.

Meskipun terdapat kemiripan pola dengan earthquake swarm, BMKG menegaskan seluruh aktivitas ini tetap dikategorikan sebagai rangkaian gempa susulan.

"Keberadaan gempa utama M7,7 yang sangat dominan membuat keseluruhan aktivitas pascagempa secara umum lebih tepat dipandang sebagai rangkaian gempa susulan," tulis Pepen dkk.

Pemetaan distribusi getaran menjadi faktor vital untuk memahami potensi bahaya pada segmen pemicu bencana di masa depan.

"Karena Flores Back-arc Thrust merupakan sistem yang memanjang dan memiliki segmentasi, distribusi gempa susulan menjadi penting untuk memahami apakah aktivitas pascagempa hanya terkonsentrasi di sekitar zona sumber utama atau juga melibatkan bagian struktur lainnya," tulis Pepen dkk.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed