Gerhana Matahari Total Bakal Gelapkan Kota Makkah pada 2 Agustus 2027
Wilayah barat Arab Saudi, khususnya Kota Makkah, diprediksi akan mengalami fenomena astronomi langka Gerhana Matahari Total yang membuat wilayah tersebut gelap gulita pada siang hari tanggal 2 Agustus 2027 mendatang.
Perhitungan astronomi menunjukkan bahwa pancaran sinar matahari di kota suci tersebut akan tertutup sepenuhnya sebesar 100 persen oleh bayangan bulan selama kurang lebih lima menit. Dilansir dari laporan Arabia Weather pada Selasa (14/7/2026), fase gerhana sebagian di Makkah akan dimulai pukul 12:01 waktu setempat, disusul fase totalitas pada pukul 13:24 hingga 13:29, dan berakhir seluruhnya pada pukul 14:53.
Selain Makkah, wilayah barat dan barat daya Arab Saudi seperti Jeddah, Taif, Abha, Jazan, dan Al-Baha juga berada di jalur totalitas, sementara wilayah timur Arab Saudi hanya akan menyaksikan gerhana sebagian dengan cakupan kegelapan di atas 60 persen. Berdasarkan data Forbes dan Egypt Independent, peristiwa ini dinilai istimewa karena menjadi gerhana matahari total dengan durasi terlama di daratan sepanjang abad ke-21, di mana pusat totalitas maksimum selama 6 menit 23 detik berada di Kota Luxor, Mesir.
Fenomena ini turut melintasi jalur dari Samudra Atlantik, Spanyol bagian selatan, Gibraltar, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman, hingga Somalia. Ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, Kelly Korreck, menjelaskan keunikan posisi Bumi dan Bulan dalam peristiwa kosmis tersebut.
"Sejauh ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini," kata Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, dikutip dari Euronews.
Ia menambahkan bahwa keselarasan ukuran dan jarak Bulan yang sempurna saat melintas di depan Matahari menjadikannya sebuah fenomena yang sangat istimewa bagi para pengamat di bumi.
"Ada bulan-bulan lain yang melintas di depan Matahari, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang sempurna untuk menyaksikan ini sungguh istimewa," tambah Korreck.
Menurut Korreck, kegelapan yang tidak biasa ini secara alami dapat memicu respons psikologis tertentu pada manusia yang menyaksikannya.
"Otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang aneh, dan mungkin muncul rasa cemas karena langit menjadi gelap dengan cara yang tidak biasa kita alami," kata Korreck.
Meski memicu kecemasan awal, pemandangan lapisan korona luar matahari yang muncul saat fase totalitas disebutnya akan memberikan pengalaman visual yang menakjubkan bagi siapa saja.
"Namun begitu kamu benar-benar melihat totalitas dan menyaksikan bagian luar Matahari yang indah itu, rasanya menakjubkan. Sebanyak apa pun kamu melihatnya, kamu selalu ingin melihatnya lagi," lanjut Korreck.
Sebelum peristiwa di tahun 2027 tersebut, fenomena Gerhana Matahari Total lainnya juga dijadwalkan terjadi pada 12 Agustus 2026 yang melewati Greenland, Islandia, Spanyol utara, sebagian Portugal, dan Rusia utara. Berdasarkan rilis NASA, Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan fenomena tahun 2026 maupun 2027 ini secara langsung karena posisi geografisnya berada jauh di luar lintasan bayangan Bulan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow