Grab Indonesia Luncurkan Strategi Bisnis Baru di Jakarta

Smallest Font
Largest Font

Grab Indonesia meluncurkan strategi bisnis "scale smarter dan execute faster" guna menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks pada semester kedua 2026 dalam acara Grab Business Forum 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga energi, tekanan rantai pasok, hingga penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik dari Bank Dunia dari 5 persen menjadi 4,2 persen yang berdampak nyata bagi pemimpin bisnis.

CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi memaparkan situasi pergerakan dunia usaha saat ini yang berubah dengan sangat cepat dari berbagai arah sekaligus, termasuk adanya integrasi cepat teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang mengubah operasional perusahaan.

"Like we all know, entering the second semester of 2026, the business world is moving in a landscape that is increasingly complex and changing very quickly," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Neneng Goenadi juga menyoroti bagaimana kombinasi tantangan global ini berjalan beriringan dengan perubahan perilaku konsumen yang menjadi jauh lebih selektif dalam berbelanja.

"For business actors, this challenge no longer comes from one direction," kata Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Tekanan dari dinamika ekonomi yang sangat luas ini dinilai memberikan dampak yang sangat nyata bagi para pemimpin bisnis di berbagai sektor operasional.

"This shows that the business world faces very broad economic dynamics. And for business leaders, the impact is very real," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Dalam menghadapi situasi tersebut, manajemen perusahaan dituntut untuk memiliki pemikiran yang lebih tajam dan disiplin mengenai metode pertumbuhan yang akan diambil ke depan.

"Well, in a situation like this, company leaders certainly need to think sharper and more disciplined, of course, about how we grow," kata Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Target utama untuk mencapai pertumbuhan berkala harus tetap dipertahankan oleh seluruh jajaran manajemen perusahaan di tengah berbagai hambatan ekonomi yang muncul.

"Whatever happens, we must continue to grow," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Meskipun peluang ekspansi dinilai masih sangat terbuka lebar bagi para pelaku usaha, ruang untuk bertumbuh dengan menggunakan metode konvensional kini sudah semakin terbatas.

"Well, at Grab, we believe that growth opportunities are still very open. However, the space to grow in the old way is narrowing," kata Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Setiap investasi baru dan inisiatif bisnis harus dipilih secara selektif guna memastikan adanya kontribusi yang nyata dan optimal terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.

"This opportunity needs to be pursued in a more disciplined manner. How we choose priorities sharper, execute faster, and ensure that every initiative really has an impact," tegas Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Pola pertumbuhan bisnis yang mengandalkan strategi lama dinilai sudah tidak lagi relevan dengan situasi ketidakpastian saat ini sehingga membutuhkan pendekatan baru.

"Seperti kami ketahui bersama, memasuki semester kedua 2026, dunia usaha itu bergerak dalam landscape yang semakin kompleks dan cepat sekali berubah," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Kombinasi tantangan dari berbagai aspek yang saling berkaitan menuntut para pelaku usaha untuk tidak lagi melihat tantangan hanya dari satu sumber.

"Bagi pelaku usaha tantangannya ini tidak lagi datang dari satu arah," kata Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Data Bank Dunia yang memproyeksikan perlambatan ekonomi kawasan menjadi sorotan penting yang mengharuskan para pemimpin bisnis melakukan adaptasi cepat.

"Ini menunjukkan dunia usaha menghadapi dinamika ekonomi yang sangat amat luas dan bagi para pemimpin bisnis dampaknya itu sangat-sangat nyata," terang Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Kemampuan memilih prioritas dan mengeksekusi strategi secara disiplin menjadi faktor penentu utama untuk menjaga keberlanjutan usaha di masa depan.

"Nah dalam situasi seperti ini, pemimpin perusahaan tentunya perlu berpikir lebih tajam dan lebih disiplin tentunya tentang bagaimana cara kami bertumbuh," terangnya Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Pola ekspansi lama yang sudah tidak relevan membuat manajemen Grab meyakini perlunya pendekatan bisnis yang jauh lebih terukur dan adaptif.

"Nah, di Grab kami percaya peluang pertumbuhan masih sangat terbuka. Namun, ruang untuk tumbuh itu dengan cara yang lama semakin sempit," tuturnya Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Perusahaan didorong untuk lebih selektif dalam menentukan langkah bisnis agar setiap alokasi investasi memberikan dampak yang optimal pada operasional.

"Peluang tersebut perlu dikejar dengan cara lebih disiplin. Bagaimana kamu memilih prioritas dengan lebih tajam, mengeksekusi dengan lebih cepat dan memastikan setiap inisiatif itu benar-benar berdampak," jelasnya Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Neneng Goenadi kemudian menguraikan arti dari strategi scale smarter sebagai pertumbuhan dengan fokus area bisnis yang jelas berbasis data tanpa menambah kompleksitas operasional yang memperlambat bisnis.

"Inilah yang kami maksud dengan scale smarter and execute faster. Bagi Grab, scale smarter means bertumbuh dengan pilihan yang lebih jelas, memilih area yang benar-benar menciptakan nilai, tentunya dengan data, kemudian mengalokasikan sumber daya dengan lebih presisi, dan memastikan bahwa pertumbuhan tidak menambah kompleksitas yang justru akan memperlambat bisnis," ujar Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Di sisi lain, konsep execute faster berfokus pada kapasitas perusahaan menerjemahkan strategi menjadi pelaksanaan harian dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) serta otomatisasi.

"Nah, execute faster berarti bagaimana menerjemahkan strategi menjadi eksekusi sehari-hari melalui integrasi teknologi, termasuk AI dan automation, untuk mendukung produktivitas, visibilitas, kontrol yang lebih baik, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat berdasarkan data," katanya Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Penerapan teknologi digital ini diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus menjawab ekspektasi tinggi dari konsumen terhadap konsistensi layanan.

"Teknologi itu bukan hanya hadir sebagai inovasi di atas kertas, tetapi juga harus membantu tim untuk bekerja lebih produktif, membantu perusahaan mengelola biaya dengan lebih jelas dan lebih efisien, serta membantu konsumen merasakan layanan yang lebih konsisten. Konsumen sekarang itu ekspektasinya sangat tinggi," ujarnya Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Keberhasilan pelaku usaha dalam menghadapi dinamika ekonomi global ini disebutnya turut melibatkan aspek sinergi lintas sektor secara menyeluruh.

"Karena pada akhirnya, pertumbuhan yang lebih kuat membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha, antara teknologi dan operasional, serta antara strategi dan eksekusi sehari-hari," tegas Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia.

Penerapan strategi tersebut salah satunya diwujudkan melalui perluasan pemanfaatan fitur teknologi dari segmen konsumen individu ke segmen korporasi lewat layanan Grab for Business.

Director of Commercial Grab Indonesia Roy Nugroho menjelaskan salah satu bentuk perluasan tersebut diterapkan pada fitur Dine Out yang kini juga menyasar pasar Business-to-Business (B2B).

"Awalnya dine out berada di consumer, kemudian kami bawa ke B2B karena ternyata ada kebutuhan juga dari perusahaan. Misalnya untuk menjamu klien atau kegiatan kebersamaan tim," kata Roy Nugroho, Director of Commercial Grab Indonesia.

Pendekatan perluasan kapabilitas serupa sebelumnya juga diterapkan pada teknologi pemetaan GrabMaps yang awalnya dikembangkan khusus untuk operasional mitra pengemudi guna mempercepat penjemputan.

"Itu salah satu bentuk scale smarter yang kami lakukan, yaitu mengembangkan kapabilitas yang sudah ada agar bisa memberikan manfaat lebih luas," ujarnya Roy Nugroho, Director of Commercial Grab Indonesia.

Peningkatan adopsi layanan mobilitas berbasis aplikasi oleh sektor korporasi ini didorong oleh kebutuhan dunia usaha untuk menekan biaya operasional serta menyederhanakan proses administrasi keuangan.

"Karena mereka tidak harus lagi kalau dilihat di perusahaan-perusahaan, biasanya nempel bon atau nempel receipt-nya gitu ya. Terus kemudian apakah itu receipt makanan atau kemudian receipt transport. Nah dengan Grab for Business sudah tidak perlu lagi melakukan itu. Karena setiap transaksi itu ter-tagging dengan business kemudian diotomasi di belakang dan kemudian sudah selesai," ujar Roy Nugroho, Director of Grab for Business.

Otomatisasi sistem ini memangkas proses manual dengan memungkinkan karyawan mengubah kategori penggunaan layanan dari personal menjadi business, sehingga biaya langsung masuk ke corporate billing tanpa reimbursement.

"Sekarang itu kita bawa scale-nya ke perusahaan, karena ternyata perusahaan juga butuh. Karyawan, bapak dan ibu kalau misalnya itu tadi mau menjamu tamu atau klien, itu praktik mereka menggunakan corporate dine out juga sudah bisa," kata Roy Nugroho, Director of Grab for Business.

Melalui sistem pelaporan digital ini, divisi keuangan perusahaan dapat memantau pola pengeluaran secara real time untuk mengevaluasi efektivitas anggaran operasional harian.

"Portal visibility-nya juga ada, web visibility-nya juga ada. Nah dengan begitu maka nantinya report-nya itu akan bisa dilihat oleh finance dan kemudian bisa melihat, oh ternyata spending yang ini harusnya bisa ditekan dan bisa ditingkatkan karena meningkatkan revenue. Jadi contoh programnya tentunya adalah mengelola kebutuhan harian dari perusahaan, apakah itu dari mobilitas sampai kepada delivery," ujarnya Roy Nugroho, Director of Grab for Business.

Saat ini, layanan Grab for Business tercatat telah melayani lebih dari 8.000 klien perusahaan di wilayah Indonesia.

Director of Mobility, Food & Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti menambahkan bahwa ketidakpastian ekonomi merupakan tantangan yang tidak bisa dihindari sehingga perusahaan harus terus aktif menyesuaikan strategi.

"Yang bisa kita lakukan adalah berinovasi, melakukan action, dan menyesuaikan strategi sesuai dengan informasi yang kita miliki saat ini,” kata Tyas Widyastuti, Director of Mobility, Food & Logistics Grab Indonesia.

Selain menyusun rencana bisnis dan skenario cadangan, Tyas menekankan pentingnya kesiapan organisasi karena sekitar 67% kegagalan bisnis dapat terjadi pada tahap eksekusi akibat ketidakmampuan menghadapi perubahan.

"Bukan hanya soal membuat rencana yang baik, tetapi juga bagaimana organisasi siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan,” ujarnya Tyas Widyastuti, Director of Mobility, Food & Logistics Grab Indonesia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed