Hakim Nyatakan Mistrial Kasus Pembunuhan Lindsay Clancy di Massachusetts

Smallest Font
Largest Font

Hakim William Sullivan di Massachusetts menyatakan mistrial pada kasus pembunuhan Lindsay Clancy setelah juri selama hampir satu minggu tidak bisa mencapai keputusan bulat mengenai pertanggungjawaban kriminal atas kematian tiga anaknya. Juri yang berjumlah 12 orang itu terjebak deadlock dengan 11 suara menentang dan satu suara mendukung, sehingga hakim memutuskan untuk membatalkan persidangan tanpa putusan. Setelah enam minggu sidang dan lebih dari 40 jam deliberasi, juri tetap tidak sepakat apakah Clancy harus dihukum atau tidak, meninggalkan masa depan kasus ini dalam ketidakpastian.

Pengacara Lindsay Clancy, Kevin Reddington, melakukan upaya dramatis agar persidangan tetap berjalan dan meminta agar salah satu anggota juri yang dianggap tidak mengikuti instruksi hukum dikeluarkan, namun permintaan tersebut ditolak hakim.

"Sayangnya, mereka tidak menahan diri berdasarkan alasan yang baik," ujar Reddington sambil menyatakan niatnya mengajukan permohonan ulang untuk mempertimbangkan kembali mistrial ini. Reddington juga mengatakan bahwa 11 dari 12 juri akan memberikan putusan yang menguntungkan kliennya jika bukan karena satu anggota juri yang menahan diri.

Jaksa Timothy Cruz menyatakan bahwa fakta menunjukkan Lindsay Clancy membunuh ketiga anaknya dan bukti menunjukkan dia memiliki kontrol atas tindakannya saat melakukan pembunuhan tersebut. Setelah pernyataan hakim, Reddington sempat mengajukan permohonan darurat ke Mahkamah Agung Massachusetts untuk memaksa hakim memeriksa anggota juri yang menahan diri, namun permohonan ini ditolak.

Kasus ini menarik perhatian publik Amerika karena isu kesehatan mental ibu pascapersalinan yang diangkat selama persidangan. Clancy, mantan perawat neonatal, tidak menyangkal membunuh anak-anaknya, namun membela diri dengan alasan mengalami psikosis postpartum. Setelah membunuh anaknya, Clancy mencoba bunuh diri dengan melompat dari jendela lantai dua dan kini mengalami kelumpuhan sebagian. Proses persidangan juga menghadirkan kesaksian dari keluarga Clancy serta ahli psikologi yang menjelaskan kondisi mental Clancy yang mengalami depresi berat dan psikosis saat kejadian.

Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 29 September untuk menentukan langkah hukum berikutnya, apakah akan mengadakan persidangan ulang atau opsi lain.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan komentar dengan menyebut kasus ini sebagai "tragedi mengerikan" dan memperkirakan akan ada persidangan ulang.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed