Harga Bitcoin Naik Usai Data Inflasi AS Rilis 12 September 2026
Harga Bitcoin dan Ethereum naik pada 12 September 2026 usai rilis data inflasi Amerika Serikat yang sebagian besar sesuai ekspektasi pasar. Bitcoin sempat mendekati US$79.000 sebelum stabil di kisaran US$77.309, sementara Ethereum melampaui US$2.500.
Menurut data CoinMarketCap, Bitcoin naik 0,56% dalam 24 jam terakhir, meskipun turun 2,88% dalam sepekan. Ethereum mencatat kenaikan seiring inflasi tahunan AS yang mencapai 3,4%, didorong lonjakan harga energi lebih dari 25% secara tahunan.
Analis Senior 21Shares, Matt Mena, menyatakan data inflasi tidak banyak mengubah ekspektasi kebijakan The Fed. Ia menambahkan, secara historis, Bitcoin mencatat imbal hasil rata-rata naik 2,13% dalam 30 hari setelah rilis data inflasi inti yang lebih tinggi.
"Situasinya tidak terlihat suram karena secara historis, BTC mencatatkan imbal hasil rata-rata naik 2,13% dalam periode 30 hari setelah rilis data IHK inti yang lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini memperkuat argumen bahwa tren kenaikan akan berlanjut jika The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil," ujar Matt Mena.
CIO Sygnum Bank, Fabian Dori, menyoroti risiko lonjakan inflasi inti yang dapat memaksa penyesuaian ekspektasi pasar terhadap The Fed. Ia menilai reli Bitcoin saat ini didorong alokasi institusional, bukan leverage spekulatif.
"Angka inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan merupakan salah satu risiko pembalikan arah pasar yang nyata yang telah kami antisipasi menjelang reli ini," kata Dori.
"Dengan probabilitas kenaikan suku bunga bulan September mendekati 70%, kejutan kenaikan angka inflasi tidak hanya mengubah penilaian pasar terhadap pertemuan tersebut, tetapi juga, setidaknya untuk sementara, menguji ketahanan pergerakan Bitcoin yang dibangun berdasarkan alokasi aset, bukan leverage," ujar Dori.
Analis Bitget, Lewis Huang, mencatat divergensi antara inflasi umum dan inflasi inti. Menurutnya, The Fed memiliki ruang untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap kenaikan inflasi umum.
"Bagi pasar kripto, data ini kurang memberikan katalis arah pergerakan yang bersumber dari kebijakan suku bunga," ujar Huang.
"Bertahannya harga Bitcoin di atas US$76.270 mengindikasikan bahwa permintaan dasar tetap kuat meskipun ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga," tambahnya.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menekankan investor perlu memahami dampak data ekonomi terhadap kebijakan moneter, bukan sekadar kenaikan atau penurunan angka.
"Investor perlu memahami bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap apakah suatu data ekonomi naik atau turun, tetapi juga bagaimana data tersebut dibandingkan dengan ekspektasi dan apa artinya terhadap kebijakan moneter ke depan. Karena itu, data makro juga menjadi salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi," ujar Ryan Lymn, Ahad (13/9/2026).
Ryan juga menambahkan setiap produk aset digital memiliki karakteristik dan risiko berbeda. Pemahaman terhadap mekanisme produk dan pengelolaan posisi menjadi kunci dalam menyesuaikan strategi investasi.
"Setiap produk aset digital memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu memahami cara kerja produk, termasuk penggunaan leverage dan pengelolaan posisi, sebelum melakukan transaksi. Pemahaman tersebut dapat membantu investor menyesuaikan penggunaan produk dengan kebutuhan dan tingkat pemahamannya," ujar Ryan.
Pasar kripto menanti keputusan The Fed pada 16 September 2026, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 60–70%. Data inflasi AS yang dirilis 11 September 2026 menjadi katalis penting dalam menentukan arah Bitcoin jangka pendek.
CEO FLOQ, Yudhono Rawis, menyatakan volatilitas Bitcoin saat ini mencerminkan integrasi aset kripto dengan dinamika pasar keuangan global. Ia menekankan pentingnya memahami pemicu pergerakan harga, bukan sekadar melihat penurunan harian.
"Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika pasar keuangan global. Ketika ekspektasi suku bunga berubah, investor akan menyesuaikan kembali tingkat risiko dalam portofolionya, dan Bitcoin ikut merespons perubahan tersebut," jelas Yudhono Rawis.
"Bagi investor, yang penting bukan hanya melihat penurunan harga harian, tetapi memahami apa yang menjadi pemicunya. Data inflasi, kebijakan The Fed, arus likuiditas, hingga tingkat leverage di pasar menjadi faktor yang perlu diperhatikan secara bersamaan," ujarnya.
Volume perdagangan spot dan derivatif kripto pada Agustus 2026 mencapai 4,23 triliun dolar AS, naik 12,3% dari Juli 2026. Pasar derivatif mendominasi dengan 86,2% dari total volume.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow