Harga Emas Dunia Anjlok Tembus Level Terendah Dua Pekan
Harga emas di pasar spot anjlok 2,72 persen menjadi US$ 4.328,36 per ons troi pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Penurunan tajam ini menekan logam mulia tersebut hingga menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir akibat kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar Serikat.
Tekanan jual teknikal membangkitkan penurunan harga emas hingga menembus ke bawah indikator moving average (MA) 200 hari di sekitar US$ 4.528 per ons troi sejak 28 Agustus. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat turut ditutup merosot 2,36 persen ke level US$ 4.375,7 per ons troi.
Penguatan imbal hasil obligasi Amerika Serikat bertenor 10 tahun yang sempat menyentuh 4,80 persen menjadi pemicu utama aksi jual logam mulia. Sentimen tersebut diperkuat oleh memanasnya tensi geopolitik di Selat Hormuz yang mendongkrak harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan memicu kecemasan inflasi global.
Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff menilai aksi lepas kepemilikan oleh pelaku pasar memegang peran kunci dalam pelemahan ini.
"Kami melihat tekanan jual teknikal. Imbal hasil obligasi global berada di level tertinggi yang belum terlihat selama bertahun-tahun," kata Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange.
Penguatan mata uang dolar Serikat juga membuat kepemilikan emas berdenominasi hijau menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Indeks Dolar AS (DXY) terpantau merangkak naik ke posisi 99,64.
Sinyal ketatnya kebijakan moneter yang disampaikan Ketua The Fed Kevin Warsh pada Simposium Jackson Hole mendorong pelaku pasar menaikkan proyeksi kenaikan suku bunga acuan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pengencangan suku bunga pada pertemuan pertengahan September melonjak hingga kisaran 65-66 persen.
Wyckoff memperkirakan pergerakan harga di pasar logam berharga masih akan terus berada dalam tekanan terbatas.
"Jalur dengan resistensi paling kecil saat ini kemungkinan adalah pergerakan sideways atau cenderung turun untuk pasar emas dalam jangka pendek. Hal yang sama berlaku untuk perak," ujar Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange.
Pandangan hawkish juga disampaikan oleh pejabat bank sentral dalam mengantisipasi laju kenaikan harga barang.
"persistensi inflasi di atas target menciptakan risiko," kata Michael Barr, Gubernur The Fed.
Ia menuturkan bahwa stabilitas suku bunga tetap menjadi opsi utama selama laju kenaikan harga dapat terkendali.
"jika inflasi tidak segera melandai, maka akan tiba waktunya untuk menaikkan suku bunga," kata Michael Barr, Gubernur The Fed.
Di tengah tekanan emas, pasar komoditas mencatat kinerja bervariasi. Perak spot terkoreksi ke US$ 64,08 per ons, platinum terpangkas menjadi US$ 1.744,3 per ons, dan palladium merosot ke US$ 1.310,8 per ons.
Penyesuaian di pasar global turut berdampak ke bursa domestik, di mana mayoritas harga saham emiten tambang emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatatkan koreksi.
Senior Market Strategist StoneX Daniel Pavilonis menyebut tren penguatan suku bunga dan energi menekan posisi aset tanpa imbal hasil.
"Yield AS terus menguat dan dolar juga terus menguat. Kondisi ini menempatkan emas dalam posisi yang cukup rentan," kata Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist StoneX.
Pelaku pasar keuangan global kini menunggu rilis data ketenagakerjaan ADP serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pekan ini sebagai acuan arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow