Harga Kopi Arabika Dunia Turun Mendekati Level Terendah Sejak November 2024 Akibat Rekor Panen Brasil
Harga kopi hari ini terpantau melanjutkan tren penurunan tajam di pasar internasional pada Kamis, 4 Juni 2026. Kontrak berjangka untuk komoditas kopi arabika kini diperdagangkan di kisaran 2,6 hingga 2,70 USD per pon, yang menandakan posisi terendah sejak November 2024.
Kemerosotan ini didorong langsung oleh proyeksi suplai yang melimpah dari negara produsen utama. Berdasarkan data per 3 Juni 2026, harga kopi global sudah menyusut ke angka 252,50 USD per kilogram akibat kepastian panen raya.
Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.
Pasokan Melimpah Brasil Tekan Pasar Kopi Dunia
Penyebab turun harga kopi secara drastis sepanjang tahun ini tidak lepas dari kondisi agrikultur di Amerika Selatan. Otoritas pangan Conab Brasil secara resmi menaikkan perkiraan produksi kopi mereka untuk musim 2026/27 menjadi 66,7 juta kantong.
Angka produksi tersebut mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah. Dari total jumlah tersebut, output untuk varietas arabika sendiri diproyeksikan bakal menembus hingga 45,8 juta kantong.
Lonjakan Produksi Arabika Secara Tahunan
Volume produksi arabika di Brasil kali ini mengalami lonjakan sebesar 28 persen jika dibandingkan dengan tahun ke tahun (year-on-year) pada musim sebelumnya. Dampak cuaca pada kopi di wilayah tersebut yang sangat mendukung masa tanam mempercepat kematangan buah kopi secara serempak.
Situasi ini membalikkan keadaan pasar yang sempat mengalami kelangkaan pada tahun lalu. Akibatnya, stok komoditas di gudang-gudang internasional kini terus menumpuk.
Dominasi Produsen di Pasar Global
Pergerakan harga kopi arabika sangat dipengaruhi oleh Brasil karena negara tersebut menguasai 40 persen dari total pasokan dunia. Arabika sendiri merupakan varietas utama yang menyumbang 75 persen dari seluruh produksi kopi global secara keseluruhan.
Selain Brasil, wilayah Kolombia menjadi produsen utama arabika berikutnya. Untuk peta perdagangan global, komoditas kopi dunia secara umum disuplai oleh beberapa negara eksportir besar sebagai berikut:
- Brasil dan Kolombia (Produsen utama Arabika)
- Vietnam dan Indonesia (Produsen utama Robusta)
- Peru, India, dan Uganda (Eksportir pendukung)
- Ethiopia, Meksiko, dan Pantai Gading (Eksportir pendukung)
Perbandingan Data Performa Historis Komoditas Kopi
Penurunan harga yang terjadi pada pertengahan tahun ini mengakibatkan koreksi kumulatif yang cukup dalam bagi para pelaku usaha dan petani. Sepanjang tahun 2026 berjalan, harga kopi global tercatat sudah merosot lebih dari 20 persen.
Menurut laporan Trading Economics, grafik perdagangan menunjukkan pelemahan yang konsisten dalam beberapa jangka waktu terakhir. Fluktuasi performa harga komoditas kopi internasional tersebut terangkum dalam data di bawah ini:
| Periode Analisis (dari 3 Juni 2026) | Persentase Perubahan Harga | Kondisi Tren Pasar |
|---|---|---|
| Satu Bulan Terakhir | -11,56% | Menurun |
| Satu Tahun Terakhir | -26,91% | Menurun Tajam |
| Tahun 2026 (Year-to-Date) | -20,00% | Melemah |
Kondisi pasar saat ini berbanding terbalik dengan situasi beberapa waktu lalu. Pasar kopi dunia sempat mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa sebesar 440,85 USD pada Februari 2025 sebelum akhirnya jatuh akibat pemulihan kapasitas produksi. Meskipun penurunan saat ini didominasi oleh jenis arabika, varietas robusta yang menyumbang 25 persen produksi kopi dunia juga ikut terkena imbas psikologis pasar.
Sebagian besar robusta diproduksi di Vietnam dengan pangsa pasar 15 persen global, disusul oleh Indonesia di urutan berikutnya. Para pelaku industri kini terus memantau apakah ekspor kopi vietnam dan aktivitas distribusi di Indonesia akan menahan volume penjualan atau ikut menurunkan harga demi menjaga daya saing. Penurunan harga arabika yang terlalu murah berpotensi membuat industri beralih konsumsi dari robusta ke arabika.
Hingga saat ini, para pedagang di bursa komoditas internasional memperkirakan harga masih sulit merangkak naik dalam waktu dekat. Volume panen riil dari lapangan yang mulai masuk ke pasar pada bulan Juni ini diprediksi akan terus mempertahankan tekanan bearish terhadap harga jual kopi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow