Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Trump Ancam Pendukung Iran
Harga minyak mentah dunia menguat hingga menembus level tertinggi dalam sebulan pada Jumat (21/8/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap negara-negara yang membantu Iran di tengah konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak Brent berjangka naik ke posisi US$93,82 per barel setelah sebelumnya melonjak 2,4 persen pada perdagangan Kamis. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$87,83 per barel, mencatatkan titik tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh peningkatan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan dari produsen utama Timur Tengah. Blokade Iran di Selat Hormuz dan penghentian transaksi keuangan Uni Emirat Arab dengan Teheran semakin memperketat arus distribusi energi global.
Di tengah situasi tensi tinggi tersebut, Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada pihak asing yang menyokong Iran dalam konflik kawasan.
"Perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Presiden AS Donald Trump saat mengancam Iran serta memberikan peringatan akan konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Teheran.
Eskalasi konflik geopolitik yang berlarut-larut tersebut dinilai oleh pengamat pasar keuangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.
"Kedua pihak masih bertahan pada posisinya masing-masing, tetapi tidak memiliki kemewahan waktu untuk sekadar menunggu, sementara harga minyak mentah terus bergerak naik," kata Analis IG Tony Sycamore.
Pasar minyak internasional juga terus mencermati aktivitas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Perusahaan analisis energi Ritterbusch and Associates menyoroti situasi krisis di jalur perairan tersebut.
"Jadi, situasi ini terus berlanjut tanpa ada penyelesaian yang terlihat, yang dapat memicu penurunan besar harga minyak hingga mendekati level sebelum perang," tulis Ritterbusch and Associates dalam catatan analisisnya.
Di sisi lain, laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan bahan bakar distilat AS mengalami penurunan selama tiga pekan berturut-turut, meskipun stok minyak mentah domestik AS bertambah 4,4 juta barel pada pekan lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow