Harga Nikel Global Bergerak Naik Tipis ke Level 16.360 Dolar AS per Ton

Smallest Font
Largest Font

Harga nikel global merangkak naik tipis ke posisi 16.360 dolar AS per ton pada perdagangan awal Juli 2026 setelah sempat tertekan di zona merah. Pergerakan komoditas logam ini terjadi di tengah dinamika tarif dagang global serta pemberlakuan regulasi domestik terbaru mengenai harga patokan mineral.

Sebelum mencatatkan kenaikan tipis tersebut, harga nikel global sempat mengalami penurunan hingga menyentuh kisaran 16.300 dolar AS per ton. Berdasarkan laporan dari pintu.co.id, fluktuasi nilai komoditas pada semester kedua tahun ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan pembatasan perdagangan internasional serta pelemahan harga komoditas global secara umum.

Di tingkat domestik, pergerakan komoditas ini beriringan dengan implementasi regulasi baru dari pemerintah Indonesia. Kebijakan ini secara langsung memengaruhi struktur biaya operasional pertambangan dan tata niaga mineral di dalam negeri.

Pemerintah secara resmi mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 yang mengubah Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025. Regulasi yang mengatur tata cara perhitungan Harga Patokan Mineral (HPM) ini telah berlaku efektif sejak 15 April 2026 dan berdampak langsung pada nilai jual bijih nikel domestik.

Kenaikan Harga Patokan Bijih Nikel Kadar Rendah

Berdasarkan data perhitungan Shanghai Metals Market (SMM), formula baru ini memicu estimasi lonjakan HPM untuk bijih nikel berkadar rendah (1,2%). Komoditas jenis ini diperkirakan melonjak hingga 151% menjadi US$40,18 per wet metric ton (wmt) dari formula lama yang sebelumnya hanya berkisar antara US$16 hingga US$17 per wmt. Saat ini, rata-rata harga pasar riil untuk bijih nikel kadar 1,2% berada di level US$30,5 per wmt.

Dampak Terhadap Nikel Saprolit Kadar Tinggi

Sementara itu, untuk bijih nikel jenis saprolit dengan kadar sekitar 1,5%, formula HPM baru memprediksi nilai patokan berada di level US$57,13 per wmt. Angka patokan tersebut sebenarnya masih berada di bawah rata-rata harga pasar saat ini yang mencapai US$70,7 per wmt. Kendati demikian, setelah regulasi ini diterapkan sepenuhnya, harga absolut di tingkat konsumen akhir diproyeksikan dapat menguat hingga US$72,47 per wmt karena adanya penyesuaian beban pajak operasional.

Harga Nikel Dunia Melonjak karena Kuota Produksi Tambang Nikel Dipangkas | CNBC Indonesia

SMM menjabarkan bahwa formulasi dalam aturan baru ini menetapkan batas minimal kandungan unsur tambahan yang dihitung secara ketat, yaitu kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%. Adapun faktor koreksi (corrective factor/CF) ditetapkan sebesar 30% untuk unsur nikel, besi, serta kobalt, dan sebesar 10% untuk komponen kromium. Formula ini menggunakan asumsi dasar kadar air sebesar 35%–40%, kadar kobalt 0,07%, kadar besi 25%, dan kadar kromium 3%.

Tantangan Ekspor dan Kekuatan Cadangan Domestik

Sektor komoditas Indonesia pada paruh kedua tahun 2026 menghadapi tantangan berat akibat kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. AS menerapkan tarif universal sebesar 10% melalui skema tarif resiprokal yang membatasi ruang gerak produk ekspor Indonesia selama 150 hari hingga tenggat waktu 24 Juli 2026.

Melalui kesepakatan bilateral yang dicapai pada 19 Februari 2026, Indonesia dan AS akhirnya menyepakati tarif resiprokal final di kisaran 19% untuk sebagian besar produk utama. Hambatan tarif ini menjadi salah satu penyebab harga nikel turun dan menahan laju ekspor mineral mentah maupun olahan ke kawasan tersebut.

Walakin, posisi tawar Indonesia di pasar internasional tetap kokoh secara jangka panjang. Berdasarkan data industri, Indonesia memegang status sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada tahun 2026 dengan total volume mencapai 62 juta ton, atau setara dengan 44,3% dari keseluruhan cadangan global.

Perkembangan IHSG dan Sektor Emiten Tambang

Kondisi pasar komoditas ini turut memberikan sentimen terhadap pergerakan pasar modal dalam negeri. Pada perdagangan Selasa, 7 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pergerakan yang fluktuatif di tengah rilis data harga mineral terbaru.

Melansir laporan dari banjarbaruklik.com, IHSG dibuka menguat pada level 5.933 sebelum akhirnya terkoreksi tipis sebesar 0,11% ke posisi 5.909 pada pukul 09.06 WIB. Aktivitas transaksi bursa pada pembukaan pagi tersebut mencatatkan volume perdagangan sebesar 1,51 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp790,70 miliar lewat frekuensi sebanyak 120.820 kali.

Secara keseluruhan, peta perdagangan saham menunjukkan dinamika yang berimbang dengan rincian 266 saham bergerak menguat, 210 saham melemah, dan 485 saham bergerak stagnan. Pergerakan minor ini terjadi setelah pada hari sebelumnya IHSG ditutup menguat 0,7% ke level 5.916.

Harga komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Penyesuaian regulasi domestik dan hambatan tarif dagang global ini diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang mendikte pergerakan harga nikel dan pergerakan saham emiten komoditas hingga akhir bulan ini.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed