Houthi Serang Dua Kapal Tanker Arab Saudi di Laut Merah

Smallest Font
Largest Font

Kelompok Houthi asal Yaman melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di perairan Laut Merah pada Kamis, yang memicu reaksi keras dan kecaman dari Pemerintah Republik Indonesia atas ancaman keselamatan pelayaran internasional tersebut.

Aksi militer tersebut menyasar kapal tanker ENCELIA dan LAYLA dengan menggunakan tembakan rudal balistik, rudal jelajah, serta serangan drone. Houthi mengklaim penyerangan dilakukan karena kedua kapal tersebut melanggar aturan embargo serta pembatasan maritim baru yang diberlakukan bagi kapal yang hendak berlabuh di pelabuhan Arab Saudi.

Laporan dari Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi adanya insiden keamanan yang dialami sebuah kapal tanker di lokasi 70 mil laut barat daya Al Shuqaiq, Arab Saudi. Nakhoda kapal melaporkan timbulnya kobaran api di atas geladak akibat hantaman proyektil tidak dikenal yang kemudian berusaha dipadamkan oleh para awak kapal.

Merespons situasi keamanan yang memburuk di jalur perdagangan maritim global tersebut, Pemerintah Indonesia menyampaikan sikap resminya melalui saluran diplomatik.

"Tindakan penyerangan tersebut melanggar hukum internasional, termasuk prinsip kebebasan bernavigasi, serta membahayakan keselamatan pelayaran, perdagangan internasional, dan stabilitas kawasan," kata Kementerian Luar Negeri RI melalui X, Jumat.

Pemerintah Indonesia mendesak seluruh pihak yang bertikai untuk menahan diri guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut. Indonesia menekankan pentingnya penghormatan terhadap Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 yang mengatur zona maritim dan keselamatan navigasi, sembari menegaskan dukungan terhadap upaya perdamaian Yaman di bawah fasilitasi PBB.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik di kawasan tersebut juga memicu respons dari Iran selaku pihak yang terlibat dalam negosiasi wilayah. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan ketegangan geopolitik terkait kawasan tersebut melalui media sosial setelah mendapat laporan dari pejabat diplomatiknya.

"Mata harus diganti mata," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengutip penjelasan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Qalibaf menambahkan bahwa pihak mana pun yang turut berkontribusi dalam tindakan agresi terhadap Iran akan dikategorikan sebagai sasaran militer yang sah. Esktensi konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak akhir 2014 saat Houthi menguasai Sanaa, yang memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi sejak 2015.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed