Serangan Houthi dan Militer Yaman Memanas di Pesisir Laut Merah
Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke target sipil serta ekonomi di Arab Saudi pada Selasa, 8 September 2026, yang melukai 73 orang di tengah sengitnya pertempuran merebut wilayah pesisir Laut Merah.
Eskalasi pertempuran beberapa hari terakhir di dekat pantai Laut Merah telah menewaskan lebih dari 300 orang dan memaksa ratusan keluarga mengungsi, ketika kelompok yang didukung Iran tersebut berupaya menguasai kawasan strategis dekat Selat Bab al-Mandab.
Pasukan Gabungan Koalisi pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa rentetan serangan Houthi menyasar lokasi sipil. Media milik Houthi, Ansarollah, mengklaim gempuran tersebut mengenai Bandara Internasional Abha, Pangkalan Udara King Khalid, serta fasilitas minyak raksasa Aramco di Abha dan Jizan.
Koalisi mengutuk keras aksi tersebut sebagai serangan yang menargetkan warga sipil dan fasilitas ekonomi.
"Serangan tak masuk akal Milisi Teroris Houthi, yang terbaru menargetkan lokasi sipil dan ekonomi, mengakibatkan luka-luka pada (73) warga sipil," kata Komando Pasukan Gabungan Koalisi dalam sebuah pernyataan.
Koalisi menegaskan akan mengambil langkah tegas guna merespons ancaman tersebut.
"Komando juga akan mengambil semua tindakan dan langkah yang diperlukan untuk merespons sumber ancaman dan menetralisir bahayanya," imbuhnya.
Di sisi lain, militer Yaman melancarkan operasi balasan sengit dengan mengklaim telah merebut kembali kendali penuh atas Kota Hays dan pinggirannya di Provinsi Al-Hudaydah. Wilayah pesisir Laut Merah itu sebelumnya dikuasai kelompok Houthi selama lima tahun terakhir.
Angkatan Udara Yaman melancarkan 13 kali serangan udara yang menghancurkan pos komando, peluncur rudal, serta sistem pengawasan termal milik Houthi di Provinsi Al-Bayda, Al-Dhale, Taiz, Marib, dan Al-Jawf, sekaligus menewaskan puluhan pejuang Houthi.
Meningkatnya intesitas pertempuran sejak Juli ini mengakhiri periode relatif tenang dari gencatan senjata PBB yang berlaku sejak April 2022. Kondisi ini memicu peringatan keras dari utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, mengenai bahaya kembalinya perang skala penuh.
Grundberg menyerukan agar seluruh pihak yang bertikai segera menghentikan permusuhan dan memanfaatkan Komite Koordinasi Militer untuk meredakan ketegangan.
"Jalur tersebut harus mampu menangani persoalan politik, keamanan, dan ekonomi yang menjadi akar konflik Yaman," kata Grundberg, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 8 September 2026.
PBB terus mendesak komunitas internasional dan negara kawasan untuk menggunakan pengaruh mereka guna menghentikan eskalasi demi melindungi warga sipil dan infrastruktur vital di Yaman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow