Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mulai Guyur Pulau Sebesi
Hujan abu vulkanik dampak peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengotori pemukiman warga di Pulau Sebesi, Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (17/8/2026). Peristiwa yang memicu pembagian ribuan masker ini terjadi akibat hembusan angin dari arah selatan saat status gunung berada pada Level III Siaga.
Erupsi Gunung Anak Krakatau terekam terjadi sebanyak 28 kali sepanjang kurun waktu Minggu (16/8/2026) hingga Senin (17/8/2026). Tinggi kolom abu teramati mencapai 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut. Untuk mengantisipasi bahaya paparan material vulkanik bagi 2.666 jiwa di lokasi terdampak, Dinas Kesehatan Lampung Selatan telah mengalokasikan total 3.000 masker medis serta bantuan obat-obatan.
Dampaknya mulai dirasakan masyarakat ketika endapan debu hitam tebal mengotori lantai serta halaman rumah warga di empat dusun wilayah setempat.
"Kalau angin selatan, debunya ke sini. Tadi sudah disapu, tetapi hitam lagi," kata Candra, warga Pulau Sebesi kepada Kompas.com.
Meskipun dampak sebaran abu yang masuk ke area permukiman saat ini dipandang masih berkategori sedang, potensi memburuknya kualitas udara tetap diwaspadai warga.
"Kalau parah memang bisa ada gangguan pernapasan. Yang dikhawatirkan anak-anak kecil, terutama balita," ujar Candra.
Sebagai respon cepat pencegahan penyakit saluran pernapasan, warga kini membiasakan diri menggunakan masker saat keluar rumah.
"Ya pakai masker. Kalau yang sedang sakit sebaiknya jangan keluar dulu," ujar Candra.
Sementara itu, otoritas kesehatan daerah bergerak mendistribusikan alat pelindung diri secara langsung ke pemukiman warga.
"Begitu ada informasi dari bidan desa dan tenaga kesehatan di sana bahwa sudah ada dampak vulkanik, teman-teman Puskesmas langsung membagikan masker kepada masyarakat," kata Devi Arminanto, Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan.
Langkah distribusi masker awal berjumlah 1.500 lembar ini turut disusul dengan pengiriman paket bantuan tambahan lewat jalur laut.
"Untuk informasi adanya masyarakat yang terganggu pernapasannya, sampai sekarang belum ada. Tetapi perkembangannya akan terus kami pantau," kata Devi.
Di sisi lain, petugas pos pengamatan terus memantau fluktuasi aktivitas magma dan kegempaan yang tercatat pada seismograf.
"Untuk aktivitasnya masih naik turun. Jadi memang masih ada erupsi dan kita terus pantau perkembangannya," kata Andi Suwardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran.
Ancaman bahaya yang berfluktuasi membuat batas radius aman bagi segala aktivitas publik diperketat.
"Selama statusnya masih Siaga, masyarakat jangan mendekati kawah aktif. Kita tidak bisa memastikan kapan terjadi perubahan aktivitas," ujar Andi.
Larangan mendekat ini ditujukan untuk menjamin keselamatan warga, wisatawan, nelayan, maupun para pendaki gunung.
"Lebih baik jangan mengambil risiko. Ikuti rekomendasi PVMBG dan informasi resmi dari petugas," kata Andi.
Pemantauan kondisi kesehatan masyarakat kini dilakukan bersama oleh Puskesmas Rajabasa, tenaga kesehatan setempat, PVMBG, BPBD Lampung Selatan, dan pemerintah desa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow