NASA Pantau Erupsi Gunung Anak Krakatau Melalui Satelit

Smallest Font
Largest Font

Erupsi Gunung Anak Krakatau mendapat pemantauan khusus dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sejak 5 September 2026. Seperti dilansir dari Detikcom, pemantauan ini dilakukan menggunakan teknologi satelit untuk mengamati kondisi sebaran emisi vulkanik di udara. Satelit NASA-USGS Landsat 8 melalui instrumen Operational Land Imager (OLI) merekam gumpalan gas vulkanik putih yang membubung di atas awan abu cokelat.

Selain itu, instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada platform NOAA-20 mengonfirmasi fenomena serupa pada tanggal yang sama. Hasil pencatatan data satelit menunjukkan indeks aerosol (pyrocumulonimbus) berada pada rentang nilai 10 hingga 20 atau lebih pada gelombang 380 nm. Peningkatan konsentrasi partikel kecil tersebut ditandai dengan gradasi warna kuning tua hingga merah pada peta sebaran.

Indeks aerosol yang tinggi ini mengindikasikan kehadiran abu tebal dalam emisi vulkanik. Sebaliknya, nilai indeks yang lebih rendah menandakan tingkat konsentrasi partikel yang lebih tipis di atmosfer.

NASA juga mendeteksi adanya konsentrasi sulfur dioksida (SO2) yang cukup padat di lapisan troposfer atas serta stratosfer. Penampakan gas ini terekam dalam gradasi warna biru hingga putih yang menunjukkan konsentrasi tinggi. Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau per 11 September 2026 mulai melandai. Karakter letusan kini beralih menjadi erupsi tipe Strombolian dengan status Gunung Anak Krakatau yang bertahan pada Level III (Siaga).

Erupsi Strombolian ditandai oleh letupan berkala akibat pelepasan gas dari magma. Fase ini berpotensi memicu lontaran material pijar serta sebaran abu vulkanik di area sekitar kawah. Perekaman instrumen Badan Geologi memperlihatkan dominasi gempa permukaan berupa gempa frekuensi rendah dan gempa hybrid. Meski begitu, rekam jejak gempa vulkanik dalam masih tercatat meningkat di atas rerata normalnya.

Peningkatan intensitas kegempaan dalam tersebut menjadi indikasi kuat masih berlangsungnya suplai magma dari kedalaman. Faktor ini membuat potensi terjadinya erupsi susulan pada Gunung Anak Krakatau tetap tinggi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed