Kemendiktisaintek Minta Kampus Mobilisasi Pakar Tangani Erupsi Anak Krakatau
Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi di ketinggian 15.000 kaki pada Selasa (8/9/2026), sebagaimana dilaporkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan dilansir dari Detikcom. Merespons situasi tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meminta perguruan tinggi untuk mengerahkan para ahli dan mengoptimalkan penanganan dampak bencana di wilayah terdampak. Langkah mitigasi ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan guna mempercepat respons lintas sektor di lapangan.
"Kami menghimbau kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi para pakar, baik pakar kesehatan, teknik, lingkungan, kebencanaan, hingga psikologi untuk terlibat aktif memantau dan menangani perkembangan erupsi ini," ujar Fauzan.
Fauzan meyakini bahwa keterlibatan para akademisi dari perguruan tinggi sangat krusial dalam memberikan analisis ilmiah serta bantuan teknis secara langsung kepada masyarakat. "Hal-hal lain terkait penanganan akibat erupsi ini kami akan selalu koordinasi dengan para pihak termasuk pemerintah daerah setempat, sehingga apa yang kami lakukan, yang dilakukan oleh Kemendiktisaintek ini dapat terukur karena memang selalu berkoordinasi dengan para stakeholder," kata Fauzan.
Selain pengerahan tenaga ahli, pihak kementerian mendorong kampus untuk mengoperasikan fasilitas darurat sebagai pusat penyaluran logistik dan pendampingan warga. "Kemudian, kami juga menghimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk mengaktifkan posko siaga di lingkungan masing-masing dan selalu berkoordinasi dengan kepala daerah setempat. Kemudian, kami menghimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi bantuan yang diperlukan oleh masyarakat maupun sivitas akademika, terutama bantuan yang terkait dengan adanya kejadian erupsi ini," jelas Fauzan.
Kesehatan dan keselamatan sivitas akademika menjadi prioritas utama Kemendiktisaintek dalam menghadapi potensi risiko keterpaparan abu vulkanik. "Oleh karena itu, aktivitas layanan kantor maupun proses pembelajaran dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring atau hybrid," tambah Fauzan. Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah diterapkan oleh sejumlah perguruan tinggi di sekitar lokasi bencana, seperti Universitas Lampung, Institut Teknologi Sumatera, Politeknik Negeri Lampung, UIN Raden Intan Lampung, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Langkah penyesuaian sistem perkuliahan ini juga diikuti oleh berbagai kampus di area Jabodetabek, termasuk Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, serta IPB University.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow