Hujan Ekstrem Picu Banjir di Kota Padang Meski Bukan Musim Hujan
Sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, dilanda banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak pagi hari pada Senin, 3 Agustus 2026. Kejadian ini terjadi meski bulan Agustus biasanya masuk musim kemarau.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan bahwa Sumatera Barat memiliki karakteristik cuaca yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia, di mana hujan lebat masih berpotensi terjadi sepanjang tahun, termasuk bulan yang bukan puncak musim hujan.
Yudha mengatakan, "Potensi kejadian hujan dengan intensitas tinggi hampir selalu ada setiap bulan." Dia menambahkan bahwa puncak musim hujan biasanya pada Maret, April, November, dan Desember, tetapi hujan lebat bisa terjadi kapan saja.
Karakteristik ini dipengaruhi letak geografis Sumatera Barat yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, memengaruhi pola cuaca di wilayah tersebut.
Kepala BMKG Kelas II Minangkabau Padang Pariaman, Desindra Deddy Kurniawan, menyebutkan bahwa wilayah pesisir Sumatera Barat, termasuk Kota Padang, Pariaman, dan Pesisir Selatan, masuk dalam zona Non-Zona Musim (Non-ZOM). Wilayah ini tidak memiliki perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau.
Desindra menuturkan, "Karena berada di wilayah Non-ZOM, kawasan pesisir Sumatera Barat memiliki potensi hujan sepanjang tahun." Dia juga menjelaskan bahwa kondisi lokal di Sumatera Barat menyebabkan belokan angin muson timur yang biasanya membawa udara kering, namun di sini memicu terbentuknya awan hujan di pesisir.
Pada kejadian Senin, Yudha mengungkapkan bahwa hujan ekstrem yang melanda Kota Padang dipicu oleh pola awan memanjang dari Sumatera Utara ke Sumatera Barat yang menghasilkan hujan dengan durasi panjang.
"Ini kumpulan awan yang memanjang mulai dari Sumatera Utara kemudian Sumatera Barat," ujar Yudha.
Hujan yang terjadi sejak malam hingga sore hari menyebabkan debit sungai naik dan memicu banjir di sejumlah wilayah Kota Padang. BMKG memperkirakan kondisi kelembapan mendukung pertumbuhan awan hujan ini bertahan hingga tiga hari ke depan.
Berdasarkan data awal, curah hujan di beberapa wilayah mencapai sekitar 250 milimeter, angka yang tergolong sangat tinggi. BMKG masih mengumpulkan data lebih lengkap untuk menentukan apakah hujan ini termasuk yang terlebat sepanjang 2026.
Yudha membandingkan hujan kali ini dengan hujan pada November 2025 yang berlangsung lama dan menyebabkan bencana. Namun, hujan ekstrem saat ini diperkirakan hanya berlangsung satu hingga dua hari.
"Karakteristiknya berbeda. Hujan ini lebih satu atau dua hari," kata Yudha.
BMKG meminta masyarakat Kota Padang dan wilayah lain seperti Pesisir Selatan dan Padang Pariaman untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan berintensitas tinggi yang masih berpotensi terjadi.
Selain itu, kondisi pertemuan angin atau konvergensi juga dapat memicu pertumbuhan awan dengan intensitas tinggi di sejumlah daerah lain di Sumatera Barat.
Desindra mengingatkan masyarakat khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan dataran rendah untuk tetap waspada karena potensi banjir tetap terbuka jika hujan lebat berlangsung lama, yang bisa meningkatkan debit sungai secara cepat.
Yudha menambahkan, "Ketika hujan dengan intensitas signifikan terjadi, masyarakat perlu mengenali karakteristik wilayahnya untuk mengetahui potensi yang dapat terjadi." Hujan ekstrem di Padang ini membuktikan bahwa musim kemarau tidak menjamin bebas dari hujan lebat dan banjir di wilayah pesisir Sumatera Barat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow