Pekerja PLTA Nepal Selamat Setelah Sembilan Hari Terjebak Terowongan
Seorang mandor mekanik bernama Sanjay Sah berhasil dievakuasi setelah terjebak selama sembilan hari di dalam terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Trishuli 3A, Nepal, akibat bencana banjir dahsyat pada akhir Agustus 2026.
Pria berusia 30 tahun tersebut diizinkan keluar dari rumah sakit pada Jumat (11/9/2026) setelah mendapatkan perawatan medis pasca-penyelamatan pada hari ke-10. Selama terisolasi tanpa makanan di kegelapan total, Sah bertahan hidup dengan mengonsumsi air banjir serta rembesan air dari celah bebatuan pegunungan.
Untuk menjaga keselamatan matanya dari serpihan material yang berserakan di dalam fasilitas milik Nepal Electricity Authority tersebut, Sah memilih untuk terus memejamkan mata.
"Tidak ada yang bisa dilihat mata saya. Sebagian besar waktu saya memejamkan mata karena takut terpeleset atau terbentur sesuatu dan melukai mata," kata Sah kepada Reuters pada Sabtu (12/9/2026).
Guna mengatasi keputusasaan dan ketakutan selama terperangkap jauh di dalam lereng pegunungan, pekerja yang telah bertugas selama tiga tahun itu melantunkan doa tradisi pemujaan Dewa Krishna.
"Kalaupun saya harus meninggal, apa gunanya menyerah begitu cepat?" ujar Sah.
Ia mengungkapkan bahwa aktivitas spiritual tersebut membantunya mengendalikan rasa cemas di tengah ketidakpastian.
"Saya tidak takut. Sebaliknya, saya merasa tenang dan rileks," katanya.
Saat air meluap hingga lantai kelima gedung pembangkit, Sah sempat berteriak memanggil penyintas lain melalui celah bangunan, namun tidak mendapat respons dari siapapun.
Harapan untuk berkumpul kembali bersama istri dan putrinya yang berusia dua tahun menjadi dorongan utamanya untuk tetap bertahan.
"Saya terus mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya tidak sendirian. Saya punya keluarga, dan mereka pasti sangat menderita di luar sana," kata Sah.
Akibat kondisi gelap gulita, kondisi psikologis dan persepsi waktunya terganggu hingga ia memperkirakan baru terjebak selama dua atau tiga hari.
"Saya benar-benar kehilangan jejak waktu dan merasa seperti hidup di dunia lain," ujarnya.
Perubahan medan akibat tumpukan lumpur, dinding runtuh, dan pecahan lampu tabung membuat pengetahuan navigasi terowongan yang dimilikinya tidak lagi berguna.
"Pengetahuan saya tentang terowongan itu tidak lagi berguna," katanya.
Ia memutuskan berhenti bergerak dan menetap di satu titik aman demi menghindari bahaya terisolasi di lokasi yang lebih sulit dijangkau.
"Di situlah mereka akhirnya menemukan saya. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya," ujarnya.
Beberapa jam sebelum penyelamatan, Sah mulai mendeteksi pergerakan tim penyelamat dari getaran dan suara alat berat di luar area terowongan.
"Saya tahu mereka akan datang. Saya tahu operasi penyelamatan akan dilakukan," katanya.
Tanda-tanda evakuasi tersebut memberikan kepastian keselamatan setelah masa-masa kritis yang ia lewati.
"Saya bisa mendengar ekskavator bekerja dan suara tangga yang beradu. Sekitar 10 hingga 12 jam sebelum penyelamatan, saya bisa mendengar orang-orang bekerja dengan jelas. Itu benar-benar memberi saya harapan," ujar Sah.
Sebelum terpisah di lantai enam akibat tekanan udara dan gelombang air, Sah sempat berusaha menyelamatkan diri bersama rekannya, Kabir Maharjan (45), yang kini dirawat di rumah sakit militer.
"Kami berdua hanya punya sedikit waktu dan bergerak ke atas, bukan ke bawah," kata Sah.
Meskipun berhasil selamat tepat pada hari perayaan kelahiran Dewa Krishna, Sah menyayangkan nasib beberapa rekan kerja yang sempat ia sarankan keluar namun justru tergulung arus banjir.
"Saya tidak tahu ke mana Kabir pergi," katanya.
Duka mendalam masih dirasakan Sah ketika mengingat rekan-rekan kerjanya yang tidak sempat menyelamatkan diri dari sapuan air.
"Itulah bagian yang paling menyedihkan dari semuanya," kata Sah.
Bencana banjir dan tanah longsor melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet menyusul runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada akhir Agustus. Data resmi mencatat sedikitnya 1.300 orang tewas dan lebih dari 5.300 orang masih dinyatakan hilang di wilayah Nepal serta Tibet.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow