ICEx Group dan Tokocrypto Dorong Adopsi Aset Digital Institusional
ICEx Group dan Tokocrypto mempercepat penguatan infrastruktur serta regulasi industri aset digital nasional dalam perhelatan Coinfest Asia 2026 di Bali pada Jumat, 21 Agustus 2026, guna mendorong adopsi institusional dan perluasan inovasi keuangan. Langkah tersebut diambil menyusul peningkatan transaksi kripto di Indonesia yang mencatatkan nilai Rp 482,23 triliun sepanjang 2025 dengan jumlah investor mencapai 19,56 juta orang hingga November 2025 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan. Sektor keuangan digital kini berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan sejak Januari 2025 dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 sebagai perubahan UU P2SK yang mulai berlaku efektif pada Juni 2026.
Finance and Risk Management Director ICEx Group Rizky Indraprasto yang memoderatori diskusi tokenisasi menekankan pentingnya adopsi nyata bagi pengembangan ekosistem digital.
"Pertanyaan terpenting mengenai tokenisasi bukan lagi apakah aset dapat ditempatkan secara on-chain, tetapi apakah aset tersebut dapat mencapai adopsi institusional yang nyata. Untuk itu, kita perlu melihat lebih jauh dari sekadar teknologi, mulai dari likuiditas, penyelesaian transaksi, regulasi, dan distribusi, hingga kebutuhan institusi yang akan menggunakan produk tersebut," ujar Rizky Indraprasto, Finance and Risk Management Director ICEx Group. ICEx Group juga menyepakati tiga kemitraan strategis, yaitu ICC dengan Ceffu, ICC dengan BitGo, serta CACI dengan Bank Nobu sebagai bentuk pengembangan kliring berstandar institusional.
Managing Director BitGo Abel Seow menilai industri aset digital tengah bergeser ke arah pemanfaatan secara aman dan luas. "Tantangannya adalah membangun infrastruktur, keselarasan regulasi, dan kepercayaan institusi agar peluang tersebut dapat diwujudkan secara bertanggung jawab," kata Abel Seow, Managing Director BitGo.
Ia juga menegaskan pentingnya fondasi keandalan sistem bagi para pelaku industri skala besar. "Adopsi institusional membutuhkan infrastruktur yang dapat dipercaya oleh institusi," ujar Abel Seow, Managing Director BitGo. Kebutuhan keamanan tersebut selaras dengan pergeseran pemahaman pasar yang kini makin berfokus pada efisiensi skala industri.
"Percakapan dalam Institutional Summit menunjukkan pergeseran industri dari mengeksplorasi apa yang mungkin dilakukan menuju pemahaman mengenai apa yang dibutuhkan untuk menerapkan aset digital secara aman dan dalam skala besar," kata Abel Seow, Managing Director BitGo.
Di sisi lain, perbaikan kerangka regulasi dianggap mempermudah masuknya pengguna baru ke dalam ekosistem kripto. "Dulu, aset kripto mungkin dianggap seperti scam. Saat ini, regulasinya sudah jauh lebih jelas dan perlindungan konsumen juga semakin diperkuat.
Memang dulu lebih sulit, tetapi sekarang sudah jauh lebih mudah," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto. Kemudahan tersebut salah satunya diwujudkan lewat kehadiran instrumen saham ter-tokenisasi untuk memberi kemudahan akses pasar global.
"Banyak orang ingin berinvestasi di saham Amerika, tetapi sebelumnya harus membuka brokerage account di luar negeri dan melalui banyak layer. Dengan tokenized stocks, aksesnya menjadi lebih mudah," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Namun, pihak penyelenggara layanan terus mendorong prioritas edukasi agar masyarakat terhindar dari pemahaman investasi yang keliru. "Edukasi itu sangat penting. Tanpa edukasi, akhirnya orang hanya FOMO dan berinvestasi secara asal. Kami sangat mengedepankan edukasi sebelum mereka benar-benar berinvestasi, supaya mereka tahu apa yang mereka investasikan, bukan hanya mengejar cuan-nya," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Kepastian aturan dianggap sebagai faktor utama yang menentukan arah kepemimpinan pertumbuhan pasar keuangan digital di kawasan Asia. "Pasar dengan aturan yang jelas akan memimpin pertumbuhan," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Oleh karena itu, penyesuaian layanan dilakukan melalui komunikasi yang intensif bersama otoritas regulasi. "Aturan berubah lebih cepat daripada kemampuan platform untuk beradaptasi," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto. Pihaknya memprioritaskan keterbukaan komunikasi untuk mengantisipasi setiap kendala operasional.
"Cara kami menghadapinya adalah dengan menjaga dialog terbuka bersama regulator, alih-alih menunggu masalah muncul dulu baru membuka percakapan," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Inovasi produk yang tepat sasaran dinilai lebih efektif menarik minat masyarakat dibandingkan penjelasan teknis yang rumit. "Yang membuat seseorang akhirnya beralih biasanya bukan karena penjelasan panjang soal blockchain," kata Calvin Kizana, CEO Tokocrypto. Kebutuhan riil pengguna menjadi faktor pembeda utama dalam penetrasi produk investasi.
"Melainkan karena produk ini menjawab sesuatu yang memang sudah mereka inginkan - seperti opsi ke pasar global yang sebelumnya tidak bisa mereka jangkau," ujar Calvin Kizana, CEO Tokocrypto.
Dukungan atas perlunya perubahan perilaku investasi yang sehat juga disuarakan oleh para pengamat pasar. "Budaya get-rich-quick itu harus di-cancel," kata Gema Goeyardi, Founder ASTRONACCI.
Perkembangan teknologi ini dinilai sebagai bagian dari transformasi jangka panjang yang menuntut pemahaman matang. "Cryptocurrency selalu disebut sebagai masa depan. Artinya, kita memang seharusnya melihat ke masa depan," ujar Ferry Irwandi, Founder Malaka Project.
Inovasi tokenisasi juga dinilai dapat merevolusi fleksibilitas operasional jam transaksi keuangan. "Kita bergerak menuju pasar 24/7, 365 hari. Jam bursa dan jam perbankan akan semakin tidak relevan, sementara modal dapat berpindah lebih mudah antara aset likuid dan aset produktif," ujar Rohit Mulani, President Southeast Asia Alpaca. Peningkatan efisiensi juga didorong melalui pemanfaatan aset likuid sebagai jaminan transaksi.
"Ini membuat penggunaan modal jauh lebih efisien. Collateral dapat digunakan untuk trading sekaligus tetap menghasilkan yield karena aset dasarnya merupakan money market fund," kata Nicholas Soong, BD Director Exchanges Circle.
Integrasi teknologi ini diperkirakan akan memperluas cakupan ekonomi digital seiring penyempurnaan regulasi Pusat Finansial Internasional Indonesia di Bali yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026. "Justru produk fintech atau super-app yang sudah dipercaya masyarakat untuk mengelola keuangan sehari-hari, dengan aset digital ditambahkan sebagai salah satu fitur," kata SB Seker, Head of APAC Binance.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow