IHSG Anjlok 7 Persen Meninggalkan Level 8000 Akibat Passive Selling Investor Global

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami penurunan tajam lebih dari 7 persen dalam waktu 15 menit setelah pembukaan perdagangan pada Kamis, 29 Januari 2026. Kejatuhan mendalam ini membuat indeks kebanggaan domestik langsung meninggalkan level psikologis 8.000 pagi ini.

Gelombang tekanan jual masif tersebut langsung menghentikan tren penguatan bursa yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Para pelaku pasar modal dikejutkan oleh kecepatan koreksi yang langsung melanda ratusan emiten di berbagai sektor.

Berdasarkan data perdagangan bursa, volatilitas tinggi ini memicu kepanikan massal di lantai bursa sejak bel pembukaan berbunyi. Mayoritas saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia langsung terjerembap ke zona merah tanpa perlawanan berarti dari investor domestik.

Statistik pergerakan saham mencatat sebanyak 660 saham mengalami penurunan performa yang signifikan. Sementara itu, terdapat 253 saham yang posisinya tidak bergerak, dan hanya tersisa 45 emiten yang mampu bertahan di zona hijau.

Menteri Keuangan Purbaya Sampaikan Kondisi APBN di Tengah Tekanan Ekonomi Dunia | tvOneNews

Aktivitas Transaksi dan Kapitalisasi Pasar yang Terkikis

Nilai transaksi perdagangan pada sesi pagi ini tercatat langsung melonjak cepat hingga mencapai Rp 7,36 triliun. Angka fantastis tersebut melibatkan volume perdagangan sebanyak 7,78 miliar saham dalam 571.800 kali frekuensi transaksi.

Akibat kejatuhan massal ini, total kapitalisasi pasar modal Indonesia langsung terkikis hebat ke level Rp 13.968 triliun. Miliaran rupiah dana investor menguap dalam hitungan menit akibat tekanan jual yang tidak berimbang di pasar.

Saham PT Bank Central Asia Tbk menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan oleh para pelaku pasar dengan nilai mencapai Rp 4,03 triliun. Harga saham emiten perbankan blue chip berkode BBCA tersebut tertekan sebesar 6 persen lebih yang membawanya turun ke level 6.600.

Pemicu utama yang menjadi penyebab ihsg turun hari ini adalah langkah radikal dari lembaga keuangan internasional. Bank investasi asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, secara mengejutkan menurunkan peringkat atau rating saham Indonesia menjadi underweight.

Tidak hanya menurunkan peringkat, lembaga keuangan global tersebut juga memangkas outlook IHSG menjadi underweight. Sentimen negatif ini langsung direspons cepat oleh para pengelola dana asing dengan merealisasikan aksi ambil untung keluar dari pasar modal dalam negeri.

Pihak analis Goldman Sachs menyampaikan dalam laporan terbaru yang dikutip dari Business Times bahwa mereka memprakirakan akan ada lanjutan passive selling atau aksi jual pasif oleh investor global. Mereka juga menilai perkembangan kondisi ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar ke depan.

Bagi pelaku pasar modal, status saham indonesia underweight artinya adalah rekomendasi bagi investor global untuk mengurangi porsi kepemilikan aset saham mereka di Indonesia karena kinerjanya diprediksi berada di bawah rata-kira indeks regional.

Statistik Perdagangan Saham Indonesia

Kondisi pasar yang memburuk secara mendadak ini tercermin jelas melalui angka-angka performa bursa yang dirilis secara resmi oleh otoritas perdagangan saham. Berikut adalah rincian data pergerakan pasar pada sesi perdagangan hari ini:

Tabel Statistik Perdagangan Saham Per 29 Januari 2026
Indikator PasarNilai / Jumlah
Penurunan IHSG> 7% dalam 15 Menit
Saham Melemah660 Saham
Saham Stagnan253 Saham
Saham Menguat45 Emiten
Nilai TransaksiRp 7,36 Triliun
Volume Saham7,78 Miliar Saham
Frekuensi Transaksi571.800 Kali
Total Kapitalisasi PasarRp 13.968 Triliun

Koreksi tajam ini juga memicu pertanyaan besar di kalangan investor ritel mengenai struktur pasar saat ini. Isu mengenai kenapa saham msci bikin ihsg anjlok serta dinamika mengenai apa itu free float saham indonesia kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai forum diskusi investasi.

Hingga pertengahan sesi pertama perdagangan, tekanan jual dari investor asing terpantau masih terus berlangsung di beberapa saham berkapitalisasi besar lainnya. Otoritas bursa terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan indeks guna mengantisipasi perlunya pemberlakuan sistem pembekuan perdagangan sementara jika koreksi terus berlanjut melampaui batas psikologis yang ditetapkan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed