IHSG Menguat di Awal September Meski Tantangan Meningkat

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Rabu pagi dibuka menguat 25,45 poin atau 0,39 persen ke posisi 6.625,39, meski bulan September dikenal sebagai periode yang penuh risiko di pasar modal Indonesia.

Kelompok saham unggulan Indeks LQ45 juga naik 2,31 poin atau 0,35 persen ke posisi 656,72, menandai penguatan pasar pada awal bulan ini, menurut data dari Bursa Efek Indonesia.

Namun, riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menunjukkan bahwa secara historis, September merupakan bulan yang kurang ramah bagi IHSG dengan rata-rata return minus 0,94 persen selama sepuluh tahun terakhir dan peluang kenaikan hanya 33 persen.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan, "September menghadirkan kombinasi sentimen yang jarang datang bersamaan. The Fed membuka peluang menaikkan bunga, ECB dan Bank of Japan mulai condong hawkish, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz belum reda, di tengah fundamental domestik Indonesia yang tetap tumbuh solid."

Liza memperkirakan IHSG hanya berpeluang 40 hingga 45 persen ditutup positif pada September 2026, dengan tren konsolidasi dan bias pelemahan jangka pendek di kisaran 6.300 sampai 6.650 sepanjang bulan.

"Tekanan IHSG pada September akan terasa di sekitar minggu sibuk bank sentral global (10 sampai 18 September) dan rebalancing FTSE Russell (18 hingga 21 September)," ujar Liza. Menurutnya, konsolidasi ini merupakan jeda sehat dalam tren re-rating yang lebih besar.

Dia juga memaparkan bahwa target IHSG akhir tahun 2026 berada di rentang 7.250 sampai 7.700, dengan syarat progres lima uji re-rating terus berlanjut menjelang review MSCI November 2026.

Faktor pendorong penguatan IHSG antara lain fundamental domestik yang solid, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen tahunan serta suku bunga acuan Bank Indonesia yang stabil di 5,75 persen.

Selain itu, komoditas ekspor andalan seperti CPO, nikel, dan emas menunjukkan tren naik, dan ada juga sentimen positif dari peningkatan jangka pendek pasca komitmen DPR soal RUU Perampasan Aset.

Di sisi lain, IHSG harus menghadapi risiko seperti sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, rebalancing FTSE Russell yang berdampak pada 39 saham Indonesia, serta arus modal asing yang tercatat nett sell sebesar Rp 97,28 triliun sepanjang tahun.

Managing Director of Research Division PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melemah di kuartal III-2026 karena permintaan domestik dan eksternal yang rentan terhadap perlambatan.

"Meskipun ekonomi tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026, daya beli mulai tertekan akibat inflasi pangan yang membatasi pengeluaran rumah tangga," jelas Harry. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pasar modal dan perekonomian nasional.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed