IHSG Anjlok 4,11 Persen ke Level Terendah dalam Setahun
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk sebesar 4,11 persen atau kehilangan 270,91 poin ke level 6.328,28 pada awal sesi kedua perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026. Penurunan tajam ini dipicu oleh sentimen penghapusan sejumlah saham dari indeks global serta pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru.
Kejatuhan ini membawa IHSG ke posisi terendah dalam waktu lebih dari satu tahun terakhir. Nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia ikut menyusut sebanyak Rp415 triliun dibandingkan hari sebelumnya menjadi Rp11.137 triliun. Tercatat ada 661 emiten yang mengalami penurunan harga saham, sedangkan 80 emiten stagnan dan hanya 74 emiten yang menguat.
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, transaksi perdagangan hari itu mencapai Rp17,72 triliun dengan volume 33,36 miliar saham. Hampir seluruh sektor saham terperosok ke zona merah dengan penurunan terdalam di sektor bahan baku yang merosot hingga 8,4 persen, terutama akibat koreksi tajam saham-saham grup Prajogo Pangestu.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh pengumuman FTSE Russell terkait potensi penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration di Bursa Efek Indonesia pada tinjauan Juni 2026. Langkah ini mengikuti kebijakan serupa dari indeks MSCI yang sebelumnya telah mendepak beberapa saham emiten Indonesia.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan analisis teknikal mengenai posisi pergerakan indeks acuan bursa tersebut.
"Hal ini berarti, IHSG masih akan rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji 6.307-6.379," ujar Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.
Pihaknya memprediksi level support IHSG berada di kisaran 6.270 dan 6.148, dengan level resistance pada area 6.640 serta 6.745. Lebih lanjut, Herditya menilai koreksi saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk juga diiringi peningkatan tekanan jual.
"Kami memperkirakan, posisi ADMR sedang berada pada bagian dari wave [y] dari wave A," kata Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.
Penurunan harga saham juga menimpa PT Archi Indonesia Tbk yang ambles hingga menembus garis rata-rata bergerak 200 hari atau MA200.
"Saat ini, posisi ARCI diperkirakan berada di akhir wave (5) dari wave [A]," kata Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.
MNC Sekuritas memperkirakan tren tekanan jual ini masih membayangi emiten lain di pasar modal, termasuk pergerakan saham PT Indah Kiat Pulp and Papers Tbk.
"Kami memperkirakan, posisi INKP saat ini sedang berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [iii]," kata Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas.
Sementara itu, jalannya pasar saham di awal pekan juga ditutup melemah 1,85 persen pada level 6.599,24 setelah sempat menguat ke posisi tertinggi 6.631,28. Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menjelaskan faktor penyebab fluktuasi indeks tersebut.
"Sebagian dana saat ini mulai beralih ke instrumen yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah, emas, dolar AS, hingga saham-saham defensif berbasis dividen dan komoditas. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman," kata Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal seperti dikutip dari Antara.
Faktor lain yang memperberat laju bursa domestik adalah fluktuasi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda terpantau melemah 0,51 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS pada pukul 12.49 WIB, setelah sempat dibuka di level Rp17.650 per dolar AS pada pagi harinya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow