IHSG Berpotensi Sideways pada 26 Agustus Setelah Melemahi di 6.501
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak cenderung mendatar atau sideways pada perdagangan Rabu (26/8/2026) usai ditutup melemah 0,37 persen ke level 6.501,67 pada Senin (24/8/2026) akibat aksi profit taking dan tekanan rupiah.
Pelemahan IHSG pada akhir perdagangan sebelum libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diwarnai penurunan 367 saham dan aksi jual bersih investor asing senilai Rp350,71 miliar dari total nilai transaksi pasar yang mencapai Rp14,29 triliun.
Koreksi indeks sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa kawasan Asia dan global, serta depresiasi mata uang rupiah yang ditutup melemah 0,11 persen ke posisi Rp17.705 per dolar AS, setelah sempat menyentuh level Rp17.757.
Sektor properti mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,67 persen, sedangkan sektor barang baku menjadi salah satu dari sedikit sektor yang bertahan di zona hijau dengan penguatan 1,38 persen.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan paparan terkait pergerakan indeks saham domestik tersebut.
"Pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi, serta pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD," kata Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Analis memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk menguat secara terbatas dengan menguji area support dan resistance terdekat pada perdagangan selanjutnya.
"Untuk Rabu, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.488 dan resist 6.507," kata Herditya Wicaksana.
Pergerakan pasar saham pada pekan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga emas, dinamika pasar obligasi pemerintah, serta sikap kehati-hatian investor menantikan agenda simposium Jackson Hole dan data manufaktur Amerika Serikat.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memaparkan kondisi teknikal serta pergerakan harian yang dialami oleh IHSG.
"Indeks sempat bergerak menguat di awal sesi, sebelum kemudian bergerak di teritori negatif hingga penutupan perdagangan akibat profit taking dan pelemahan Rupiah," kata Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Ia menuturkan bahwa indikator teknikal indeks menunjukkan potensi konsolidasi dalam rentang tertentu pada perdagangan pertengahan pekan ini.
"Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways pada kisaran 6.450-6.570 pada perdagangan Rabu," kata Alrich Paskalis Tambolang.
Tingginya posisi IHSG yang sempat menyentuh level psikologis 6.500 dalam beberapa hari terakhir turut meningkatkan risiko aksi ambil untung bagi para pelaku pasar.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina menyampaikan analisisnya mengenai pencapaian level tertinggi indeks tersebut.
"Untuk minggu lalu, jadi kalau kita lihat 6.500 itu level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Jadi sebenarnya itu sudah mulai bullish untuk market kita," kata Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Martha mengingatkan bahwa fluktuasi arus dana asing dan dinamika rebalancing indeks global membuat posisi indeks masih cukup rentan terhadap penyesuaian harga.
"Jadi kita masih melihat bahwa akan rawan profit taking di pekan ini, khususnya nanti di akhir pekan. Ini pun juga sebenarnya kan sudah mulai mengalami penurunan gitu ya, mengingat level 6.500 juga sudah cukup tinggi. Jadi pekan ini memang lebih rawan untuk profit taking kalau kita lihat," kata Martha Christina.
Pergerakan pasar saham domestik diproyeksikan akan sangat bergantung pada konsistensi aliran modal asing dan daya tahan sektor perbankan.
"Kalau misalnya terjadi net sell tapi IHSG-nya masih menguat, itu sebenarnya bisa saja terjadi tapi yang kita takutkan adalah bahwa akan lebih cepat untuk turun," kata Martha Christina.
Ia menambahkan pentingnya memperhatikan batas level support dan resistance kunci untuk mengukur arah tren IHSG ke depan.
"Kalau kita lihat level 6.600 jadi level yang menarik untuk IHSG untuk bisa ditembus. Dan kalau misalnya bisa nembus 6.600 ada kemungkinan untuk bisa terus berlanjut," kata Martha Christina.
Investor diimbau untuk tetap mencermati pergerakan batas bawah guna mengantisipasi penurunan lebih dalam apabila terjadi tekanan jual lanjutan.
"Menurut saya sih di bawah 6.200 ya. Jadi kita perlu hati-hati," kata Martha Christina.
Pasar keuangan domestik juga menantikan hasil uji kelayakan dan kepatuhan calon Gubernur Bank Indonesia serta pengumuman data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dari Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow