IHSG Anjlok Dua Persen dan Rupiah Menguat Tipis

Smallest Font
Largest Font

Pasar keuangan Indonesia bergerak bervariasi dengan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang anjlok nyaris 2 persen, sementara mata uang rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG merosot 135,58 poin atau 1,98 persen ke posisi 6.723,32 akibat respons negatif pasar terhadap evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International yang mengeluarkan sejumlah saham besar Indonesia.

Sektor infrastruktur, barang baku, teknologi, dan energi menjadi penekan utama pelemahan indeks dengan nilai transaksi bursa mencapai Rp19,79 triliun dan volume perdagangan sebesar 38,95 miliar saham.

Beberapa saham yang mencatat penurunan terdalam antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk sebesar 14,85 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk sebesar 11,36 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk sebesar 11,16 persen.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan nilai tukar rupiah menguat 0,17 persen ke level Rp17.460 per dolar AS, mematahkan tren pelemahan tiga hari beruntun di tengah tingginya inflasi Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen.

Pemerintah mengantisipasi volatilitas pasar melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Kementerian Keuangan akan mulai membantu Bank Indonesia dalam mengendalikan tekanan kurs rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (13/5/2026).

Purbaya menjelaskan bahwa salah satu skema yang akan digunakan pemerintah adalah mengoptimalkan dana stabilisasi obligasi untuk meredam tekanan di pasar Surat Berharga Negara.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026) karena koreksi saham teknologi dan belum adanya hasil terobosan besar dari pertemuan bilateral antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

"Sektor ini telah mengalami pergerakan yang tidak berkelanjutan dalam beberapa pekan terakhir dan tetap rentan terhadap aksi ambil untung, apa pun berita utamanya," tulis Adam Crisafulli dari Vital Knowledge, dikutip dari CNBC International.

Penurunan Wall Street ditandai oleh melemahnya indeks S&P 500 sebesar 1,24 persen, Nasdaq Composite sebesar 1,54 persen, dan Dow Jones Industrial Average yang terkoreksi 1,07 persen.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed