IHSG dan Rupiah Menguat Saat Imbal Hasil SBN Melambung
Pasar keuangan Indonesia mencatatkan penguatan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (10/6/2026), di tengah lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Kenaikan indeks domestik dipengaruhi oleh gejolak sentimen dalam negeri yang membawa pasar saham kembali ke zona hijau setelah sebelumnya sempat melemah. Dilansir dari cnbcindonesia.com, lonjakan IHSG berhasil menjadikannya sebagai performa pasar saham terbaik di kawasan Asia-Pasifik.
Berdasarkan data RTI pada Selasa (9/6/2026) pukul 09.04 WIB, IHSG dibuka menguat 30,02 poin atau 0,56 persen ke level 5.372,16. Pergerakan indeks berada di rentang terendah 5.344,68 hingga tertinggi 5.428,72 setelah meninggalkan zona merah.
Apresiasi berlanjut hingga Rabu (10/6/2026) saat sesi pertama IHSG melesat 2,71 persen atau naik 155 poin ke posisi 5.902,37. Sebanyak 571 saham mengalami kenaikan, 148 saham turun, dan 96 saham bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi di bursa terpantau ramai dengan volume perdagangan mencapai 46,67 billion saham dan nilai transaksi Rp31,73 triliun. Frekuensi perdagangan menyentuh 3,1 juta kali, meskipun pasar saham domestik masih membukukan aksi jual bersih asing senilai Rp3,13 triliun.
Sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 4,22 persen, diikuti sektor energi 3,9 persen, dan sektor finansial sebesar 3,21 persen. PT Bank Central Asia Tbk menjadi penopang utama dengan sumbangan 46,84 indeks poin, diikuti PT Telkom Indonesia Tbk sebesar 19,84 indeks poin.
Tiga emiten Himpunan Bank Milik Negara juga melesat dengan kontribusi kumulatif 35 indeks poin setelah mendapatkan sentimen positif opsi pembelian kembali saham. Pergerakan saham perbankan besar ini membalikkan kondisi dari hari sebelumnya yang sempat kompak melemah.
Pada sektor mata uang, data Refinitiv menunjukkan rupiah menguat 0,55 persen ke level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda berhasil keluar dari level psikologis Rp18.000 setelah sempat dibuka menguat pada level Rp17.875 per dolar Amerika Serikat.
Apresiasi rupiah ini sejalan dengan respons pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026). Suku bunga indeks dolar Amerika Serikat sendiri terpantau melemah tipis 0,03 persen ke level 99,882.
Langkah penyesuaian suku bunga acuan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan untuk mengantisipasi gejolak pasar global. Kenaikan tersebut ditujukan untuk memitigasi dampak dari situasi eksternal serta menjaga stabilitas moneter domestik.
"melancarkan serangan tambahan untuk pertahanan diri pada pukul 17.15 waktu ET terhadap sejumlah target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi." kata Komando Pusat AS (CENTCOM).
Pernyataan militer Amerika Serikat di platform X tersebut dikeluarkan sebagai respons atas eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Dampak situasi ini menekan bursa Wall Street dengan penurunan Indeks Dow Jones Industrial Average sebesar 1,87 persen ke level 49.918,78.
"Iran telah terlalu lama menunda negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka, dan sekarang mereka harus membayar harganya!!!" tulis Trump.
Sentimen geopolitik global tersebut memicu kenaikan harga komoditas energi di pasar internasional. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,07 persen menjadi 90,03 dolar AS per barel, sementara minyak Brent menguat ke level 93,10 dolar AS per barel.
Sementara itu, pasar obligasi domestik mencatat penjualan oleh investor dengan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,479 persen. Lonjakan ini mencerminkan dampak lanjutan dari penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia sehari sebelumnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow