Indonesia Ungguli Malaysia dalam Penjualan Mobil Tahun 2026
Indonesia kembali mempertahankan posisinya sebagai pemimpin penjualan mobil di kawasan ASEAN pada tahun 2026. Dilansir dari Detik Oto, data terbaru menunjukkan bahwa penjualan kendaraan bermotor di Tanah Air melampaui Malaysia, negara tetangga yang sempat mengancam dominasi Indonesia di tahun sebelumnya.
Sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026, penjualan mobil di Indonesia secara wholesales mencapai 517.742 unit. Angka ini naik sebesar 18,3% dibandingkan periode yang sama pada 2025, dengan kenaikan absolut sebanyak 80.198 unit. Sementara itu, penjualan ritel juga mengalami peningkatan sebesar 12,3%, dari 455.567 unit menjadi 511.514 unit.
Sedangkan di Malaysia, penjualan mobil pada Januari-Juli 2026 tercatat sebesar 458.968 unit, naik tipis dari 443.777 unit pada tahun 2025. Meskipun demikian, angka ini masih kalah jauh dibandingkan Indonesia. Tahun lalu, Malaysia sempat mendekati Indonesia dengan penjualan yang mencapai 820.752 unit, sementara Indonesia mengalami penurunan dari 889.680 unit (2024) menjadi 833.712 unit (2025).
Presiden Malaysia Automotive Association (MAA), Mohd Shamsor Mohd Zain, menjelaskan bahwa peningkatan penjualan di negaranya didorong oleh permintaan konsumen yang kuat, skema pembiayaan yang menguntungkan, serta penerimaan masyarakat yang semakin luas terhadap mobil listrik. “Ini mencerminkan kekuatan berkelanjutan industri dan transisinya menuju mobilitas yang lebih canggih dan berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk tahun 2026, Gaikindo menargetkan penjualan mobil di Indonesia mencapai 850.000 unit. Ketua Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyatakan bahwa target ini tetap realistis meskipun perekonomian dalam negeri belum sepenuhnya pulih. “Kita optimis, tapi tetap realistis. Apalagi ada pameran otomotif Gaikindo Jakarta Auto Week yang akan berlangsung pada 20-29 November 2026,” tutur Jongkie.
Sementara itu, Malaysia menargetkan penjualan sebesar 800.000 unit pada tahun ini. Target tersebut sudah mempertimbangkan berbagai tantangan, termasuk pertumbuhan ekonomi yang moderat, ketidakpastian perdagangan global, kenaikan biaya akibat inflasi, serta potensi perubahan insentif pajak untuk kendaraan listrik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow