Investor Obligasi AS Menahan Diri Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Investor obligasi Amerika Serikat memilih menghindari taruhan posisi besar menjelang keputusan rapat kebijakan Federal Reserve pada Rabu (29/7). Ketidakpastian arah inflasi serta lonjakan harga energi memicu pelaku pasar untuk mengamankan aset berkualitas tinggi.
Hasil survei JPMorgan terbaru menunjukkan posisi investor Treasury relatif tidak bergeser dari rata-rata empat pekan terakhir. Mayoritas pelaku pasar mengantisipasi suku bunga acuan bertahan di kisaran 3,50%-3,75%, meski data CME FedWatch mencatat peluang kenaikan naik menjadi 36% dari sebelumnya 16%.
Perubahan ekspektasi tersebut dipengaruhi melambatnya inflasi konsumen AS ke angka 3,5% pada Juni 2026, yang masih berada di atas target resmi 2%. Selain itu, peningkatan tensi geopolitik antara AS dan Iran membayangi pergerakan harga minyak global.
Chief Investment Officer BNY, Jason Granet, menilai kondisi pasar saat ini tidak mendukung pengambilan posisi investasi yang agresif.
"Saya rasa kondisi saat ini tidak mendukung pengambilan posisi investasi yang besar," kata Chief Investment Officer BNY, Jason Granet.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan risiko dan ukuran posisi yang lebih terukur sebelum pengumuman kebijakan moneter dirilis.
"Ada peluang yang sama besarnya bahwa hasilnya bisa bergerak ke salah satu arah," ujar Chief Investment Officer BNY, Jason Granet.
Sementara itu, Schroders memilih mengalihkan sebagian alokasi portofolio ke obligasi daerah dan surat utang berbasis hipotek guna menjaga kualitas imbal hasil.
"Keputusan The Fed justru bukan bagian yang paling menarik," kata Kepala Pendapatan Tetap AS Schroders, Neil Sutherland.
Ia menambahkan bahwa fokus utama pelaku pasar terletak pada ambang batas kebijakan selanjutnya.
"Yang lebih penting adalah apakah ambang untuk langkah kebijakan berikutnya menjadi lebih tinggi atau lebih rendah," kata Kepala Pendapatan Tetap AS Schroders, Neil Sutherland.
Sutherland juga menyoroti tingginya nilai valuasi pada obligasi korporasi saat ini.
"Spread kredit saat ini sangat mahal jika dibandingkan dengan rata-rata historis. Valuasinya sudah sangat tinggi," kata Kepala Pendapatan Tetap AS Schroders, Neil Sutherland.
Di sisi lain, AllianceBernstein memproyeksikan tidak ada kenaikan suku bunga lanjutan karena stabilitas pasar tenaga kerja.
"Data inflasi terakhir cukup baik, pasar tenaga kerja terlihat stabil, dan sebagian besar tekanan inflasi belakangan ini berasal dari kenaikan harga energi. Itu merupakan guncangan dari sisi pasokan yang pada dasarnya tidak dapat diatasi melalui kebijakan moneter," kata Kepala Ekonom AS AllianceBernstein, Eric Winograd.
Pendekatan defensif turut diterapkan oleh Nuveen dengan memprioritaskan instrumen surat utang pemerintah berdurasi pendek hingga menengah.
"The Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Karena itu, obligasi pemerintah AS tenor pendek hingga menengah terlihat lebih menarik bagi kami," kata Kepala Strategi Pendapatan Tetap Nuveen, Tony Rodriguez.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow