The Fed Jadi Penentu Nasib Rupiah dan IHSG di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Keputusan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat pada 16 September 2026 menjadi sorotan utama pasar keuangan global, termasuk Indonesia, di tengah tekanan kenaikan harga minyak dunia yang kembali menembus USD100 per barel. Harga minyak yang meningkat diperparah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya serangan pada fasilitas minyak Arab Saudi oleh kelompok Houthi pada 8 September, memicu kekhawatiran pasokan energi global. Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan inflasi di AS dan membuat kebijakan The Fed semakin sulit. Menteri Keuangan AS Scott Bessent fokus menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi agar kondisi finansial tetap longgar.
Analis Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini memperkirakan inflasi konsumen AS akan tetap tinggi di kisaran 3,5-3,6 persen YoY, terutama karena kenaikan harga energi yang bersifat cost-push, bukan akibat permintaan berlebih.
"Ini merupakan kejutan energi yang bersifat cost-push, bukan cerita overheating akibat permintaan," ujar Ahmad Mikail Zaini, Analis Sucor Sekuritas. Menurutnya, jika The Fed menganggap tekanan inflasi akibat gangguan pasokan bersifat sementara, ada peluang besar suku bunga tidak dinaikkan pada pertemuan September ini.
"Model kami memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September mencapai sekitar 91 persen," tambah Ahmad, mengacu pada strategi Treasury mendorong pembelian kembali obligasi untuk menekan yield jangka panjang. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai, selain harga minyak, data inflasi AS yang masih tinggi mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, yang berpotensi menekan pasar saham AS dan melemahkan rupiah.
"Harga minyak ini kayaknya sudah lepas, enggak akan ditahan-tahan lagi, bisa naik tinggi banget," kata Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama. Ia juga menyoroti bahwa tidak adanya intervensi dari Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran kali ini, berbeda dengan pola sebelumnya yang kerap menurunkan ketegangan. Teguh memperkirakan jika rupiah melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi kecil dalam jangka pendek, namun tidak lama.
"Bahan sentimennya untuk koreksi itu sudah ada, yaitu dari luar negeri," ujar Teguh.
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 6.450-6.700 pekan depan, dengan sinyal momentum yang mulai menunjukkan potensi tekanan. Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan volatilitas IHSG dipicu oleh pertemuan FOMC dan rebalancing indeks FTSE yang bertepatan pekan depan. "Ruang kenaikan indeks mulai lebih terbatas sehingga pergerakan pasar kemungkinan semakin selektif," ujar Rully.
Co-Founder Alphagate Capital Henry Wibowo menilai IHSG sudah memasuki fase bull market dengan kenaikan lebih dari 20 persen sejak Juni 2026, namun volatilitas jangka pendek masih perlu diwaspadai.
"Pergerakan IHSG akan dipengaruhi hasil FOMC, rebalancing FTSE, nilai tukar rupiah, dan aliran dana asing," kata Henry Wibowo. Untuk jangka panjang, Rully memproyeksikan IHSG berpeluang mencapai 6.700-6.900 hingga akhir 2026, sementara Henry optimistis IHSG dapat menyentuh level 7.000.
Pergerakan IHSG dan rupiah sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi domestik, kebijakan fiskal, dan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow