Iran dan Oman Sepakati Rute Pengaturan Pelayaran Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Iran dan Oman menyepakati koridor pelayaran sementara selebar tujuh mil atau 11 kilometer di Selat Hormuz pada Rabu (26/8/2026) untuk mengatur arus lalu lintas kapal demi meredakan ketegangan maritim. Langkah diplomatik ini diambil setelah negosiasi intensif selama 40 hari terakhir antara Teheran dan Muscat. Kesepakatan tersebut mengatur rute kapal yang masuk ke Teluk Persia dari Teluk Oman agar melintasi wilayah perairan teritorial Iran, sementara rute keluar akan membagi jalur antara perairan Iran dan Oman. Diplomat tinggi dari kedua negara sepakat untuk melanjutkan proses pembersihan ranjau darat serta merencanakan perundingan lanjutan selama 30 hingga 60 hari mendatang guna merumuskan kerangka pengelolaan permanen.

"Kami sepakat dengan Oman bahwa rute masuk ke Selat Hormuz akan melalui perairan teritorial kami, dan sebagian rute keluar juga akan melalui perairan teritorial kami," ujar Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Ia memaparkan bahwa usulan peta navigasi tersebut berasal dari angkatan bersenjata Iran, namun menegaskan bahwa pembukaan jalur sementara ini bukan berarti mengaktifkan kembali selat secara penuh. "berarti menutup rute selatan di selat tersebut," ujar Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Gharibabadi menilai rute selatan sebelumnya sempat dibuka oleh pihak Amerika Serikat di bawah tekanan Oman, yang menurutnya melanggar Pasal 5 nota kesepahaman penghentian perang. "Iran dan Oman kemudian akan melakukan perundingan selama 30 hingga 60 hari untuk mencapai kesepahaman mengenai rute baru yang permanen dan berkelanjutan," kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah berhasil disingkirkan oleh Angkatan Laut AS. Trump memberikan peringatan keras dan memberlakukan kebijakan tanpa toleransi terhadap aktivitas penebaran ranjau baru di jalur vital persediaan energi dunia tersebut. "Saya baru saja menerima informasi dari Angkatan Laut Amerika Serikat bahwa semua ranjau telah disingkirkan dan/atau diledakkan dari perairan internasional di Selat Hormuz," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Trump menambahkan bahwa pemantauan ketat terus dilakukan dari udara dan antariksa untuk memastikan keselamatan navigasi kapal di kawasan tersebut.

"Iran telah diberitahu bahwa setiap kapal atau perahu yang menebar ranjau baru akan dihancurkan seketika dan secara sistematis," tegas Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Ia menegaskan pengerahan teknologi canggih terus berjalan untuk mengawasi kawasan strategis serta sejumlah titik vital yang sebelumnya menjadi target militer. "Melalui Angkatan Antariksa, kami memantau setiap jengkal wilayah selat tersebut, sebagaimana kami juga memantau Gunung Pickaxe dan tiga fasilitas nuklir lainnya yang telah dihancurkan," ucap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Pemerintah AS juga mengklaim pemantauan ketat terus diberlakukan tanpa celah di sepanjang wilayah perairan internasional tersebut.

"Kebijakan Nol Toleransi terhadap penebaran ranjau sedang diberlakukan sepenuhnya," tegas Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Dinamika geopolitik ini memicu reaksi pasar energi global. Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah acuan Brent terperosok 2 persen ke level US$86,80 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026), sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 1,8 persen menjadi US$80,87 per barel. "Pasar terus merespons perkembangan terkait navigasi melalui Selat Hormuz dan harapan adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman telah memicu aksi jual," kata Mitsuru Muraishi, Analis Fujitomi Securities.

Kendati demikian, Muraishi menyimpulkan bahwa kekhawatiran atas potensi ketegangan susulan masih menahan laju penurunan harga lebih jauh. "Ketidakpastian terhadap prospek telah mendorong pembelian saat harga turun, membatasi kerugian lebih lanjut, dan harga kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran tertentu untuk sementara waktu," ujarnya Mitsuru Muraishi, Analis Fujitomi Securities.

Di tengah proses negosiasi, insiden keamanan tetap terjadi ketika sebuah kapal tanker minyak dilaporkan mengalami serangan di lepas pantai timur Oman pada Senin malam yang menyebabkan kerusakan mesin, meski seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed