Iran Penahan Dua Diplomat Prancis Usai Ketegangan Hubungan Diplomatik
Pemerintah Iran menahan dua staf Kedutaan Besar Prancis di Teheran pada Minggu (19/7/2026) akibat tuduhan pelanggaran hukum setempat. Penahanan tersebut memicu protes keras dari pemerintah Prancis yang menilai tindakan itu melanggar imunitas diplomatik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa penahanan dilakukan karena kedua staf tersebut bertindak tidak sesuai dengan ketentuan bagi pejabat asing. Araghchi menuntut Kedutaan Besar Prancis mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan bahwa kedua anggotanya sempat ditahan dan diinterogasi selama beberapa jam tanpa alasan yang jelas. Salah satu diplomat bahkan mengalami penganiayaan fisik sebelum akhirnya diperbolehkan kembali ke kedutaan.
"Saya telah memberi tahu Menteri Luar Negeri Iran bahwa pelanggaran yang sangat serius dan tidak dapat diterima terhadap integritas agen kami ini tidak dapat dibiarkan begitu saja tanpa konsekuensi," kata Barrot.
Barrot menambahkan bahwa kedua staf tersebut bertugas mengawasi program dukungan bagi masyarakat sipil Iran, termasuk kalangan seniman dan ilmuwan. Kementerian Luar Negeri Prancis juga telah memanggil Kuasa Luar Biasa Iran di Paris guna meminta penjelasan serta jaminan keamanan bagi personel diplomatik mereka.
Di sisi lain, Araghchi mengungkapkan bahwa keputusan strategis Iran selama konflik baru-baru ini berada di bawah kendali komite enam orang dalam Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Komite tersebut melibatkan Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Sekretaris Dewan Keamanan Mohammad Bagher Zolghadr.
"Semua diskusi terkait negosiasi berlangsung di komite ini, dan persetujuannya mengikuti prosedur yang persis sama dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi," ujar Araghchi.
Ia membeberkan bahwa negosiasi dilakukan untuk menghentikan perang ketika posisi militer Iran dinilai cukup kuat. Pihak Iran menegaskan tidak akan mengorbankan program pengayaan nuklir demi tuntutan Amerika Serikat.
"Apakah Anda pernah menghadiri pertemuan di mana terdapat kemungkinan konstan untuk dibom?" kata Araghchi.
Araghchi menyebut bahwa delegasi Amerika Serikat berusaha membujuk Iran agar menerima tuntutan mereka. Namun, pihak Iran menolak tawaran tersebut secara tegas.
"Anda harus berbicara kepada kami secara berbeda; Anda tidak bisa mengancam atau membujuk kami," ujar Araghchi.
Araghchi menyatakan bahwa program pengayaan nuklir negaranya bukan barang komoditas yang bisa diperjualbelikan demi konsesi politik.
"Pengayaan tidak untuk dijual," kata Araghchi.
Iran juga memperingatkan bahwa tekanan eksternal tidak akan meruntuhkan ketahanan politik dalam negeri.
"Mereka harus mengancam mereka yang takut pada mereka. Kami menunggu bencana melanda kapan saja. Ini bukan Venezuela, di mana menyingkirkan satu orang menyebabkan sisanya panik," ujar Araghchi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow