JD Vance Rilis Buku Communion Bahas Perjalanan Iman dan Politik
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance merilis memoar keagamaan keduanya berjudul "Communion: Finding My Way Back to Faith" pada Selasa, 16 Juni 2026.
Buku tersebut mengisahkan perjalanan spiritual Vance dari masa kecilnya yang menghadiri gereja Baptis dan Pentakosta, menjadi ateis saat kuliah, hingga akhirnya dibaptis menjadi Katolik pada usia 35 tahun di tahun 2019.
Melalui buku ini, Vance juga dinilai sedang memberikan argumen kepada kelompok Republik, khususnya pemilih religius, mengenai kesiapannya maju sebagai calon presiden pada pemilu 2028 mendatang.
Namun, peluncuran buku ini memicu kritik tajam karena ilustrasi sampulnya yang menampilkan gereja United Methodist, yang dianggap kontradiktif dengan tema konversi ke Katolik.
Pengamat agama dan media menyoroti bahwa buku tersebut justru memperlihatkan kebingungan Vance mengenai teologi Katolik serta adanya pengaruh teologi evangelis dari masa lalunya.
Menurut Survei Lanskap Keagamaan dari Pew Research Center, sekitar 35 persen orang dewasa di Amerika Serikat dibesarkan dalam tradisi agama yang berbeda dari yang mereka praktikkan saat ini.
Dalam bukunya, Vance merekam kejujurannya saat pertama kali harus beradaptasi dengan tradisi barunya sebagai seorang Katolik.
"The idea of speaking of my sins to a stranger mortified me." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat dalam memoarnya.
Ia juga sempat mempertanyakan salah satu sakramen paling sakral dalam misa Katolik sebelum memahami maknanya.
"This was always a little weird to me as a Protestant: You guys actually think this bread converts to the body of Christ?" tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Vance menambahkan bahwa lingkungan lamanya sering kali tidak memahami tradisi berdoa kepada orang-orang kudus dalam gereja Katolik.
"but they draw the line at consulting dead people—‘Holy Mary, Mother of God, pray for us sinners, now and at the hour of our death.’" tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Selain masalah doktrin, buku ini merekam gesekan politik antara pandangan Vance dengan kepemimpinan Vatikan, terutama terkait kebijakan imigrasi dan sikap anti-perang Paus.
Vance menceritakan pengalamannya saat melakukan pertemuan pendahuluan dengan para diplomat Vatikan sebelum dirinya bertemu langsung dengan Paus Fransiskus.
"our meeting with Vatican diplomats was much most substantive than I expected." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Namun, ia mengaku merasa terganggu ketika para diplomat tersebut memberikan peringatan mengenai kebijakan perbatasan Amerika Serikat.
"What did they take issue with, exactly?" tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Meskipun penuh dengan narasi politik dan perdebatan teologis, Vance menuliskan bagian lain yang menceritakan keyakinan dasar kekristenannya.
"if you believe that Jesus is the son of God and rose from the dead on the third day, you’re on the right track," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Dalam kehidupan politiknya, Vance berpendapat bahwa pendekatan ekonomi yang dipengaruhi nilai-nilai Katolik dapat menjadi jalan tengah bagi perbaikan kondisi Amerika Serikat saat ini.
"In some ways, my Senate run was a quirky intellectual project: an effort to make what I thought were more explicitly Christian arguments about the economy," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Vance juga menceritakan bagaimana pandangannya terhadap agama mulai bergeser sejak masa remajanya yang sempat kaku terhadap budaya populer.
"The Christian faith I’d developed by the time I was fifteen was adversarial: disengaged from mainstream culture, even terrified of it," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Perjalanan spiritual Vance ini dipengaruhi oleh pengalamannya saat berkuliah di Yale Law School, di mana ia bertemu dengan miliarder teknologi Peter Thiel yang menginspirasinya karena tetap religius di lingkungan elite.
"Possibly the smartest person I’d ever met, he identified very openly as a Christian." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat menilai sosok Peter Thiel.
Vance mengagumi Thiel karena mematahkan stigma yang sempat ia bangun sendiri mengenai orang-orang beragama.
"He defied the simple social template I had constructed—that dumb people were religious and smart people were atheists." tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.
Kini, setelah menjadi pemeluk Katolik, Vance menyatakan bahwa fokus utamanya adalah menjalani kehidupan iman bersama keluarganya secara rutin.
Ia menyampaikan komitmennya untuk membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan gereja yang terstruktur setiap pekan.
"I didn’t meet Jesus on my way to Damascus," tulis JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa konversinya terjadi melalui proses panjang, bukan instan.
Saat ini, JD Vance tercatat sebagai pejabat Katolik paling senior di dalam pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow