Trump Tuding Laporan Kekurangan Amunisi AS sebagai Pengkhianatan di Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh laporan yang menyebut kekurangan amunisi AS dalam perang melawan Iran sebagai tindakan pengkhianatan. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi serangan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Trump melalui akun Truth Social menyatakan bahwa tudingan soal amunisi yang menipis adalah kesalahan 100 persen dan mendorong agar media dan pihak yang mempertanyakan pasokan amunisi dihentikan. Ia menyebut AS sedang menang dalam konflik ini.
Trump menegaskan bahwa persediaan amunisi AS sangat besar dan produksi amunisi dilakukan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga menyebut amunisi itu disimpan untuk kebutuhan AS sendiri, meskipun penjualan ke sekutu akan segera dimulai kembali.
Selain itu, Trump mengkritik pemerintahan Joe Biden yang menurutnya memberikan bantuan amunisi gratis dalam jumlah besar ke Ukraina dan NATO, yang seharusnya ditanggung oleh Eropa. Ia berjanji akan meminta penggantian biaya tersebut dari negara-negara Eropa walaupun agak terlambat.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pemerintah sedang menyelidiki laporan serangan AS terhadap pesta pernikahan di Provinsi Hormozgan, Iran, yang menewaskan empat orang. Ia meragukan akurasi laporan media pemerintah Iran terkait insiden itu.
"Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan itu. Kami juga tidak pernah melakukannya.
Dan sayangnya, tentu saja, terkadang berbagai hal terjadi...Ketika militer kami melakukan kesalahan, mereka belajar dari kesalahan tersebut untuk berusaha menjadi lebih baik. Jadi, kami sedang menyelidikinya secara sangat menyeluruh," ujar Vance dalam pengarahan di Gedung Putih.
Vance juga menegaskan bahwa saat ini tidak ada saluran diplomatik terbuka antara Washington dan Teheran serta menolak menyebut konflik ini sebagai perang aktif.
Di sisi lain, menurut laporan The Wall Street Journal, Trump sedang mempertimbangkan kemungkinan mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Ia percaya tekanan ekonomi dapat membuat Iran menghentikan program nuklir atau runtuh sendiri.
Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth diam-diam memperpanjang pengerahan personel militer di Timur Tengah, yang memungkinkan konflik berlanjut hingga tahun depan.
Serangan dan blokade yang dilancarkan AS di Selat Hormuz menjadi bagian dari upaya menjaga jalur energi dunia tetap terbuka, meskipun Iran melakukan penembakan terhadap kapal-kapal komersial di sana, menurut pernyataan Vance.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow