Sistem Kalender Jawa Hari Ini Sabtu Legi 13 Juni 2026 Memasuki Wuku Sungsang

Smallest Font
Largest Font

Masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan kombinasi untuk menentukan hari baik dan membaca peruntungan weton pada hari Sabtu, 13 Juni 2026. Berdasarkan perhitungan penanggalan tersebut, hari ini bertepatan dengan tanggal 27 Besar 1959 Ja/Dal dalam kalender Jawa atau 27 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Sistem penanggalan pada hari ini masuk ke dalam periodisasi tahun Dal yang berada dalam siklus Windu.

Berdasarkan laporan dari Good News From Indonesia, hari Sabtu ini mengusung pasaran Legi dengan payung Wuku Sungsang yang berganti tepat sejak matahari terbenam pada malam sebelumnya. Penanggalan Jawa pada bulan Juni 2026 mengalami transisi penting karena bertepatan dengan akhir tahun Jawa 1959 Dal menuju tahun baru 1960 Ba'. Transisi ini terjadi seiring dengan pergantian bulan Besar menuju bulan Suro yang jatuh pada pertengahan Juni.

Data dari Tanggalans menunjukkan bahwa sebelum mencapai tahun baru Jawa, tanggal 13 Juni 2026 menempati posisi akhir bulan Besar. Detail mengenai posisi penanggalan dan konversi kalender masehi ke jawa pada pertengahan bulan Juni dapat dilihat dalam visualisasi terstruktur.

Daftar Konversi Kalender Masehi ke Jawa Juni 2026
Tanggal MasehiTanggal JawaHari PasaranWuku
11 Juni 202625 Besar 1959 DalKamis WageSungsang
12 Juni 202626 Besar 1959 DalJumat KliwonSungsang
13 Juni 202627 Besar 1959 DalSabtu LegiSungsang
16 Juni 202630 Besar 1959 DalSelasa WageSungsang
17 Juni 20261 Suro 1960 Ba'Rabu KliwonPadangan

Karakteristik dan Arti Weton Sabtu Legi

Perhitungan weton untuk hari Sabtu Legi didasarkan pada kombinasi nilai hari dan pasaran tradisional. Cara menghitung neptu weton dilakukan dengan menjumlahkan nilai dari hari Sabtu dan pasaran Legi.

Merujuk pada formula primbon Jawa, nilai neptu untuk hari Sabtu adalah 9, sedangkan nilai untuk pasaran Legi adalah 5. Melalui penjumlahan kedua variabel tersebut, maka diperoleh total Neptu 14 untuk entitas hari ini.

Siklus Windu Kalender Jawa

Sistem penanggalan Jawa mengelompokkan tahun ke dalam siklus Windu yang berlangsung selama 8 tahun berturut-turut. Setiap tahun dalam siklus ini memiliki karakteristik jumlah hari yang berbeda, yaitu:

  • Alip (354 hari)
  • Ehé (355 hari)
  • Jimawal (354 hari)
  • Jé (354 hari)
  • Dal (355 hari)
  • Bé (354 hari)
  • Wawu (354 hari)
  • Jimakir (355 hari)

Tahun 2026 saat ini sedang berjalan pada kurun tahun Dal yang memiliki karakteristik jumlah hari sebanyak 355 hari. Konteks tahun ini memengaruhi pembacaan besar dari energi kalender secara keseluruhan.

Penetapan 1 Suro Tahun 2026/2027 dan Kaitannya Dengan 5 Weton Jawa ini | Fitka Channel

Sejarah Asal-Usul Kalender Jawa

Kalender Jawa merupakan sebuah sistem penanggalan unik yang memadukan tiga unsur budaya utama. Berdasarkan catatan sejarah dari Walisongo, sistem ini merupakan peleburan dari sistem kamariah atau lunar Islam, sistem Hindu, dan sedikit pengaruh penanggalan Julian dari budaya Barat. Sistem terpadu ini pertama kali diperkenalkan secara resmi melalui dekret Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1633 Masehi atau tahun 1555 Saka. Langkah politis dan kultural ini diambil untuk menanamkan ajaran agama Islam di tanah Jawa dengan mengubah basis matahari menjadi berbasis bulan.

Meskipun basis penghitungan hari berubah menjadi sistem kamariah, Sultan Agung memutuskan untuk tetap meneruskan angka tahun Saka yang berjalan. Akibat kebijakan tersebut, tahun 1555 Saka langsung diteruskan menjadi tahun 1555 Jawa tanpa memutus rantai angka tahun yang sudah dikenal masyarakat. Dekret kultural dari Kesultanan Mataram ini kemudian berlaku secara luas di seluruh pulau Jawa dan Madura pada masanya. Namun, terdapat beberapa wilayah yang tidak ikut mengadopsi sistem penanggalan ini, antara lain wilayah Banten, Batavia atau Jakarta, Banyuwangi atau Balambangan, serta wilayah di luar pulau Jawa seperti Bali dan Sumatra.

Pergantian hari pada sistem kalender Jawa memiliki regulasi waktu yang berbeda dengan kalender Masehi standar. Proses pergantian tanggal dan pasaran Jawa terjadi pada saat matahari terbenam atau tepat ketika memasuki waktu maghrib, bukan pada pukul 00.00 tengah malam.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed