Karhutla Ganggu Pariwisata dan Ekosistem di Beberapa Destinasi Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan gangguan serius pada aktivitas wisata, ekosistem, dan kehidupan masyarakat di beberapa destinasi di Indonesia, termasuk Desa Adat Sade di Lombok Tengah dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kebakaran di Desa Adat Sade terjadi pada 22 Agustus 2026 dan diduga akibat korsleting listrik, yang menghanguskan ratusan bangunan, termasuk rumah adat dan tempat usaha warga yang menjadi bagian dari kegiatan wisata. Sementara itu, aktivitas wisata di Kawah Ijen ditutup total sejak 4 September 2026 hingga waktu yang belum ditentukan karena kondisi karhutla yang merusak kawasan tersebut. Dampak kebakaran juga merambah ke satwa, seperti orang utan jantan dewasa bernama Sempurna yang ditemukan lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Ketapang, Kalimantan Barat, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Pakar lingkungan dan dosen Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menilai karhutla sebagai risiko langsung bagi sistem pariwisata Indonesia yang banyak bergantung pada hutan, gunung, taman nasional, dan lanskap alam.

"Yang utama adalah keselamatan lebih penting daripada jumlah kunjungan," ujar Mahawan kepada detikTravel. Mahawan menambahkan bahwa pengelola wisata alam wajib memiliki peta risiko kebakaran, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, batas kapasitas pengunjung berbasis risiko, serta SOP penutupan dan pembukaan kembali kawasan wisata.

Dosen Vokasi Universitas Indonesia, Deni Danial Kesa, memandang persoalan kebakaran ini lebih luas, terkait ketahanan destinasi, keselamatan wisatawan, keberlanjutan mata pencaharian, dan tata kelola pariwisata. "Ketika rumah terbakar, yang hilang bukan hanya aset tetapi juga rantai nilai pariwisata lokal," kata Deni, merujuk pada kasus di Desa Adat Sade yang rumah adatnya juga berfungsi sebagai tempat tinggal, usaha menenun, dan penjualan cendera mata.

Deni menyarankan agar konsep pengembangan destinasi tidak hanya fokus pada 4A (attraction, accessibility, amenities, ancillary), tetapi juga menambah dua unsur yaitu safety dan resilience, sehingga menjadi konsep 5A+R yang mampu melindungi wisatawan dan masyarakat saat krisis. Ia juga mengusulkan Destination Fire Risk Index untuk memetakan tingkat risiko kebakaran di destinasi wisata, dengan melibatkan BNPB, pemadam kebakaran, KLHK, pemerintah daerah, dan akademisi, sekaligus menjadikan mitigasi kebakaran sebagai bagian standar destinasi wisata. Deni menekankan pentingnya pemulihan pasca kebakaran yang harus dipikirkan sejak awal dan merekomendasikan Kementerian Pariwisata melakukan audit keselamatan nasional berbasis risiko dalam 100 hari ke depan.

Pakar pariwisata Indonesia, Prof. Azril Azahari, mengingatkan agar pembangunan pariwisata memahami ekosistem kepariwisataan yang meliputi flora, fauna, lingkungan fisik, manusia, dan budaya yang saling berkaitan.

Azril menekankan pentingnya manajemen risiko kecelakaan wisata sebelum destinasi dibuka, termasuk kesiapan alat pemadam kebakaran, perlengkapan keselamatan, dan pemanfaatan teknologi seperti drone untuk penanganan keadaan darurat. Menurut Azril, kapasitas fisik destinasi juga harus dihitung berdasarkan kondisi kawasan, yang dikenal sebagai physical carrying capacity, agar destinasi tak hanya ramai dan menarik tapi juga mampu mencegah, merespons, dan memulihkan kondisi setelah bencana karhutla.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed